Trump Kirim “Armada” ke Iran, Harga Minyak Langsung Panas
Harga minyak menguat di perdagangan Asia pada Jumat setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal kemungkinan aksi militer terhadap Iran. Pernyataan ini langsung memicu kekhawatiran pasar soal gangguan pasokan di Timur Tengah—wilayah yang jadi nadi utama suplai energi dunia.
Meski sempat terpukul dalam beberapa sesi terakhir, minyak tetap mengarah mencatat kenaikan untuk pekan kelima beruntun. Pasar menilai permintaan berpotensi membaik, sementara premi risiko ikut naik karena ketegangan geopolitik global yang terus memanas.
Trump menyampaikan peringatan itu saat berbicara dengan wartawan di atas Air Force One. Ia mengatakan AS punya “armada” yang bergerak ke arah Iran, dan meminta Teheran tidak melakukan tindakan yang memicu eskalasi, termasuk menindak protestor atau menghidupkan kembali upaya nuklir. Nada pernyataannya jelas: AS “mengawasi sangat dekat” dan opsi keras tetap ada.
Sejumlah laporan menyebut sebuah kapal induk dan beberapa kapal perusak akan tiba di Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Ini memunculkan kembali bayangan konfrontasi militer di kawasan—dan pasar minyak biasanya bereaksi cepat ketika jalur pasokan berpotensi terganggu.
Kekhawatiran pasar punya dasar kuat karena Iran adalah salah satu produsen minyak terbesar di OPEC dan pemasok penting untuk China, importir minyak terbesar dunia. Jika AS benar-benar mengambil langkah militer, risiko gangguan ekspor Iran akan langsung merembet ke rantai pasokan global dan mendorong harga naik lebih tinggi.
Dari sisi pergerakan, minyak sempat “whipsaw” minggu ini—naik turun tajam—karena pasar juga mencerna perubahan sikap AS terkait Greenland. Namun di tengah ketidakpastian itu, harga minyak masih bertahan di jalur positif dan terus mengumpulkan tenaga untuk menutup pekan dengan penguatan.
Sentimen juga ditopang faktor fundamental permintaan. Data pertumbuhan ekonomi China yang masih positif memberi harapan konsumsi energi tetap jalan, ditambah sinyal dari lembaga energi global yang meningkatkan proyeksi permintaan 2026. Setelah tahun 2025 yang mengecewakan, sebagian investor juga melihat harga minyak menarik untuk aksi “bargain buying”.
Selain itu, pelemahan dolar membantu minyak karena komoditas ini diperdagangkan dalam dolar—ketika dolar turun, minyak biasanya terasa lebih murah bagi pembeli luar AS. Pasar juga masih percaya The Fed berpeluang memangkas suku bunga tahun ini, yang biasanya mendukung aset berisiko dan komoditas lewat sentimen likuiditas.
5 poin penting:
- Harga minyak naik setelah Trump memberi sinyal potensi aksi militer terhadap Iran.
- Pasar khawatir gangguan pasokan Timur Tengah, sehingga premi risiko naik.
- Minyak berpeluang naik pekan kelima beruntun, meski sempat volatil.
- Iran adalah produsen besar OPEC dan pemasok penting untuk China—risiko gangguan ekspor bisa mengerek harga.
- Faktor pendukung lain: data China cukup positif, proyeksi permintaan 2026 membaik, dan dolar melemah karena ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.(asd)
Sumber : Newsmaker.id