Dolar Menuju Penurunan Mingguan Terburuk Sejak Juni
Dolar AS menuju pekan terburuk sejak Juni, bukan karena data ekonomi yang jelek, tapi karena pasar makin bingung dengan arah kebijakan AS yang dianggap sulit ditebak. Indeks dolar turun ke level terendah tiga pekan dan melemah sekitar 0,8% dalam lima hari menjelang rapat The Fed pekan depan.
Yang bikin investor bingung pekan ini adalah manuver Trump yang berubah-ubah: sempat mengancam tarif ke Eropa terkait isu Greenland, lalu tiba-tiba membatalkannya setelah ada kesepakatan kerangka di Davos. Perubahan cepat seperti ini membuat pelaku pasar menilai risiko politik lebih dominan daripada faktor moneter.
Menariknya, dolar justru melemah ketika yield US Treasury naik karena pasar melihat ekonomi AS masih cukup kuat dan The Fed cenderung menahan suku bunga. Artinya, dolar turun bukan karena The Fed terlihat dovish, tapi karena kepercayaan pasar terhadap konsistensi kebijakan AS lagi diuji.
Di pasar derivatif, sikap trader juga berubah cepat. Mereka kini membayar lebih mahal untuk lindung nilai terhadap pelemahan dolar dalam sebulan ke depan—berbanding terbalik dengan pekan lalu saat sentimen bullish dolar sempat paling tinggi sejak November. Volatilitas jangka pendek ikut naik menjelang keputusan The Fed 28 Januari.
Dari sisi data, klaim pengangguran AS masih rendah dan relatif stabil, memberi sinyal pasar tenaga kerja belum menunjukkan retak besar. Tapi itu belum cukup untuk mengembalikan dukungan dolar, karena pasar lebih fokus pada “event risk” kebijakan dan politik dalam beberapa minggu ke depan.
Fokus berikutnya: Trump bilang ia sudah selesai mewawancarai kandidat ketua The Fed berikutnya dan punya nama dalam pikiran. Komentar ini menambah lapisan ketidakpastian baru, karena perubahan kepemimpinan Fed bisa menggeser ekspektasi suku bunga—dan membuat pasar makin sensitif terhadap setiap headline.
5 poin penting:
Dolar menuju pekan terburuk sejak Juni, turun sekitar 0,8% dalam 5 hari.
Penyebab utama: ketidakpastian kebijakan AS, bukan data ekonomi.
Manuver tarif Trump soal Eropa–Greenland yang berubah cepat bikin pasar “whipsaw”.
Yield naik tapi dolar turun → risiko politik dinilai lebih dominan dari moneter.
Pasar menanti The Fed (28 Jan) dan sinyal soal calon ketua Fed pilihan Trump.(yds)
Sumber: Newsmaker.id