Inflasi Australia Meningkat, AUD Mencari Arah Baru
Dolar Australia (AUD) bergerak sedikit dan mempertahankan pelemahannya pada hari Selasa, karena pelaku pasar memilih untuk berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Pasar juga menahan diri karena menunggu arah baru dari kombinasi faktor dari Tiongkok, AS, dan kebijakan bank sentral Australia.
Salah satu pemicu utama berasal dari Tiongkok. Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) memutuskan untuk mempertahankan Suku Bunga Pinjaman Utama (LPR): tenor 1 tahun tetap di 3,00% dan tenor 5 tahun di 3,50%. Keputusan ini membuat AUD relatif tenang, karena Australia sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi Tiongkok, mitra dagang utamanya.
Sementara itu, dolar AS mulai kehilangan momentum karena meningkatnya ketidakpastian seputar masalah AS-Greenland. Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan mengenakan tarif pada delapan negara Eropa yang menentang rencana Greenland-nya. Uni Eropa juga bersiap untuk menunda tindakan tersebut sambil mempersiapkan opsi pembalasan jika tarif benar-benar diberlakukan situasi yang biasanya menekan sentimen risiko dan membuat pasar bergejolak.
Di dalam negeri, AUD mendapat dukungan dari data inflasi. Indeks Inflasi TD-MI Australia naik menjadi 3,5% (yoy) pada Desember dari 3,2% sebelumnya. Inflasi bulanan melonjak menjadi 1,0% (mom) laju tercepat sejak Desember 2023 setelah hanya 0,3% dalam dua bulan sebelumnya.
Kenaikan tekanan harga ini dapat memperkuat spekulasi bahwa RBA akan tetap ketat dan berhati-hati dalam kebijakan moneternya. IMF juga memperingatkan RBA untuk tidak terburu-buru melakukan pelonggaran, karena inflasi telah lama berada di atas target 2%–3%, meskipun CPI turun lebih cepat dari yang diperkirakan pada November. Pasar sekarang menunggu untuk melihat apakah kombinasi tekanan inflasi dan risiko global cukup kuat untuk mengangkat AUD, atau apakah pergerakannya akan tetap tertahan. (asd)
Sumber: Newsmaker.id