Perak Turun dari Puncak, Pasokan Ketat Masih Menopang
Harga perak melemah pada hari Rabu (21/1) dan kini bergerak di sekitar $92,4 per ons setelah sebelumnya gagal bertahan di area rekor dekat $96.
Penyebab utamanya: ketegangan geopolitik mereda sementara. Setelah Trump menegaskan ia tidak akan memakai kekuatan militer terkait Greenland, pasar sedikit lebih tenang. Aset berisiko dan obligasi ikut stabil, sehingga kebutuhan “all-in” ke aset defensif seperti logam mulia ikut berkurang.
Padahal reli kemarin sempat kencang karena kombinasi faktor yang “berisik”: ancaman tarif soal Greenland dan gejolak obligasi Jepang yang mengguncang pasar utang global. Efeknya, dolar sempat melemah dan logam mulia makin menarik sebagai tempat berlindung.
Meski turun, perak belum kehilangan fondasi utamanya: pasokan fisik yang ketat. Berbagai laporan industri menyoroti pasar perak sudah melewati beberapa tahun defisit (permintaan lebih besar dari pasokan), membuat harga perak sensitif terhadap guncangan baru—baik dari mata uang, utang negara, maupun kebijakan dagang.
Jadi ceritanya sederhana: perak sedang cooling down setelah sprint ke rekor. Tapi selama isu tarif, volatilitas obligasi, dan narasi “Sell America” masih bisa muncul kapan saja, koreksi seperti ini bisa cepat berubah jadi rebound kalau pasar kembali tegang. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id