
Trending

Perak
Sumber: Newsmaker.id
Harga perak dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (5/11/2026), dengan pasangan XAG/USD bergerak mendekati level US$53 per troy ounce. Kenaikan ini melanjutkan momentum positif pada sesi sebelumnya, didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Sentimen pasar membaik setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela meningkatkan harapan terhadap penyelesaian konflik AS-Iran. Perkembangan tersebut turut mendorong penurunan tajam harga minyak dunia dan mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan ekspektasi investor terhadap kebijakan luar negeri Washington. Presiden Donald Trump mengakui bahwa konflik dengan Iran dan tingginya harga bensin menjadi faktor yang berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik. Trump juga mengindikasikan bahwa pemerintahannya tidak memiliki rencana segera untuk meningkatkan serangan militer terhadap Iran. Pernyataan tersebut memperkuat optimisme pasar terhadap peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, sekaligus mengurangi kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Penurunan harga minyak akibat meningkatnya harapan perdamaian memberikan dukungan tambahan terhadap perak. Harga energi yang lebih rendah berpotensi mengurangi biaya produksi dan transportasi serta membantu meredakan tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat mengurangi kebutuhan bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang terlalu ketat. Di sisi lain, melemahnya dolar AS membuat perak menjadi lebih terjangkau bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya, sementara penurunan imbal hasil obligasi meningkatkan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan pendapatan bunga.
Meski demikian, penguatan perak masih menghadapi tantangan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Desember. Berdasarkan CME FedWatch Tool yang dikutip dalam laporan, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai sekitar 79%. Ekspektasi tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi AS yang masih tinggi serta ketahanan aktivitas ekonomi domestik. Investor kini menantikan laporan Non-Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis Jumat (6/11/2026). Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk menilai kondisi pasar tenaga kerja dan menentukan arah ekspektasi kebijakan moneter berikutnya.
Penguatan perak menuju US$53 menunjukkan meningkatnya dukungan terhadap logam mulia seiring pelemahan dolar, penurunan imbal hasil obligasi, dan meredanya kekhawatiran inflasi akibat penurunan harga minyak. Jika data tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan dan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, perak berpotensi mempertahankan momentum penguatannya. Sebaliknya, apabila NFP kembali mencerminkan ketahanan ekonomi AS dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, harga perak berisiko mengalami koreksi. Dengan demikian, keberlanjutan penguatan XAG/USD akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter AS, pergerakan dolar, dan dinamika geopolitik Timur Tengah.