
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia anjlok tajam pada perdagangan Rabu (4/11/2026), setelah hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) meningkatkan ekspektasi bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump akan menghadapi tekanan politik untuk mengakhiri konflik dengan Iran.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 8,3% dan ditutup pada US$88,12 per barel, sementara Brent jatuh 8,7% menjadi US$94,62 per barel. Penurunan tersebut mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik setelah investor mulai memperhitungkan kemungkinan perubahan arah kebijakan Washington terhadap perang Timur Tengah.
Sentimen pasar semakin berubah setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perang Iran sebagai penyebab utama kekalahan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu. Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas di DPR dan Senat AS, membuka peluang peningkatan pengawasan terhadap kebijakan militer dan anggaran pemerintahan Trump. Vance menilai konflik Iran telah membebani dukungan politik Partai Republik, terutama akibat lonjakan harga bensin dan diesel yang memperburuk tekanan biaya hidup masyarakat. Sementara itu, Trump sebelumnya mengakui bahwa perang turut memengaruhi hasil pemilu, meskipun tetap mempertahankan keputusan pemerintahannya terkait konflik tersebut.
Pelaku pasar kini memperkirakan perubahan keseimbangan kekuasaan di Kongres dapat meningkatkan tekanan terhadap Washington untuk mengutamakan penyelesaian diplomatik. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai hasil pemilu mendorong ekspektasi bahwa Trump mungkin lebih terbuka terhadap kesepakatan dengan Iran.
Pernyataan Trump sebelumnya yang menyebut tidak ada rencana segera melakukan serangan baru turut memperkuat sentimen tersebut. Meski demikian, belum terdapat kepastian mengenai berakhirnya konflik, sehingga harga minyak masih berpotensi mengalami volatilitas apabila pembicaraan damai kembali menemui hambatan atau ketegangan militer meningkat.
Sumber: Newsmaker.id