
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak menguat pada Rabu (4/11), dengan WTI berada di US$97,02 per barel dan Brent di US$103,96 per barel. Investor mencermati dampak hasil pemilu paruh waktu AS terhadap kebijakan Washington, terutama arah konflik AS-Iran dan kemungkinan langkah militer selanjutnya.
Hasil pemilu yang membawa Demokrat menguasai kedua kamar Kongres dari Partai Republik Trump berpotensi memperumit agenda pemerintahan. Namun, perhatian utama pasar tetap tertuju pada apakah Washington akan kembali mengambil tindakan militer terhadap Iran atau memilih jalur diplomasi.
Ketidakpastian meningkat setelah AS melakukan serangan yang disebut sebagai tindakan defensif terhadap instalasi pertahanan udara Iran di Pulau Qeshm, dekat Selat Hormuz. Trump kemudian mengatakan Washington tidak memiliki rencana segera untuk melancarkan serangan lanjutan.
Di sisi lain, Iran dan AS masih meninjau proposal baru dari mediator untuk menjembatani perbedaan kedua pihak. Qatar terus meningkatkan upaya mediasi, tetapi seorang pejabat senior Iran mengatakan kedua negara masih jauh dari kesepakatan. Serangan terhadap kapal tanker lain di Selat Hormuz juga kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pengiriman energi.
Sebelum pemilu, ekspektasi serangan baru AS terhadap Iran sempat mendorong minyak ke level tertinggi dalam enam bulan. Namun, sinyal diplomasi kemudian memicu pembalikan tajam. Pergerakan selanjutnya masih sangat bergantung pada perkembangan konflik dan negosiasi kedua negara.
Dari sisi fundamental, data persediaan AS memberikan dukungan tambahan bagi harga minyak. API melaporkan stok minyak mentah AS turun 5,267 juta barel untuk pekan yang berakhir 30 Oktober, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan 2,1 juta barel. Persediaan bensin naik 1,427 juta barel, sementara stok distilat turun 270 ribu barel. (srh)
Sumber: Newsmaker.id