
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS jatuh ke level terendah dalam satu bulan terhadap sejumlah mata uang utama pada Rabu (4/11) setelah Partai Demokrat berhasil menguasai Senate dan House of Representatives dalam pemilu paruh waktu AS. Hasil tersebut diperkirakan membatasi ruang gerak Presiden Donald Trump dalam menjalankan agenda pemerintahannya hingga akhir masa jabatan.
Indeks Dolar AS (DXY) sempat turun ke 101,245, level terendah sejak akhir September. Penurunan tersebut cukup tajam dibandingkan puncak pertengahan Oktober di 102,945, yang merupakan level tertinggi sejak April 2025.
Pasar menilai kemenangan Demokrat dapat membatasi peluang pemerintah untuk mendorong stimulus fiskal tambahan. Jika belanja pemerintah lebih terkendali, pertumbuhan ekonomi AS berpotensi melambat dan mengurangi salah satu faktor yang sebelumnya mendukung penguatan dolar. Perlambatan investasi AI dan pembangunan pusat data juga menjadi perhatian.
Tekanan terhadap dolar terlihat di berbagai pasangan mata uang. Dolar turun ke 0,8124 franc Swiss, level terendah dalam delapan minggu. Sementara itu, euro menguat ke US$1,1263, level tertinggi hampir tiga minggu, dan poundsterling melonjak ke US$1,3486, level tertinggi dalam tujuh minggu.
Meski demikian, pelemahan dolar belum tentu berlangsung panjang. Trump masih memiliki kewenangan atas sejumlah agenda penting, termasuk kebijakan luar negeri dan perdagangan. Selain itu, kemenangan Demokrat dapat meningkatkan prediktabilitas kebijakan fiskal AS dan mengurangi risiko kebijakan yang memperbesar defisit dalam dua tahun mendatang.
Analisis Newsmaker: dalam jangka pendek, hasil midterm menjadi tekanan tambahan bagi dolar karena pasar memperkirakan ruang fiskal Trump semakin terbatas. Namun, dalam jangka menengah, kebijakan fiskal yang lebih terkendali justru dapat menjadi faktor positif bagi dolar. Karena itu, arah DXY berikutnya akan sangat bergantung pada respons yield Treasury, kebijakan The Fed, serta data ekonomi AS setelah euforia pemilu mereda. (arl)
Sumber: Newsmaker.id