
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak stabil di kisaran 101,80 pada perdagangan Asia, Selasa (3/11/2026), setelah mencatat pelemahan tipis pada sesi sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati investor menjelang pemilu sela Amerika Serikat (AS), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Permintaan terhadap dolar sebagai aset aman turut memberikan dukungan, meskipun ketidakpastian arah kebijakan ekonomi AS masih membatasi penguatannya.
Pemilu sela AS menjadi perhatian pasar karena hasilnya berpotensi memengaruhi kebijakan fiskal dan stabilitas ekonomi negara tersebut. Berdasarkan pasar prediksi yang dikutip dalam laporan, Partai Demokrat memiliki peluang sekitar 74% untuk mengambil alih kendali Senat. Sementara itu, pemerintahan Presiden Donald Trump menghadapi tekanan akibat tingginya harga energi yang dipicu konflik dengan Iran. Perubahan komposisi Kongres berpotensi memengaruhi kebijakan perpajakan, belanja pemerintah, serta prospek inflasi AS.
Dari sisi kebijakan moneter, dolar masih mendapat dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Setelah mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, pasar memperkirakan peluang kenaikan sebesar 73% pada Desember. Tingginya harga energi dan risiko inflasi menjadi faktor yang memperkuat perkiraan tersebut. Kondisi ini berpotensi menjaga daya tarik dolar karena suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan imbal hasil aset keuangan berbasis mata uang AS.
Ketegangan geopolitik turut memengaruhi sentimen pasar setelah muncul laporan mengenai serangan militer terbatas AS terhadap Pulau Qeshm di Iran pada Senin. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan berlanjutnya konflik, meskipun kedua negara masih membuka jalur diplomasi. Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia akibat harapan tercapainya kesepakatan damai berpotensi meredakan tekanan inflasi. Investor juga menantikan laporan ketenagakerjaan AS yang akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.
Newsmaker menganalisa, stabilnya dolar AS menunjukkan bahwa investor masih mempertimbangkan berbagai faktor yang saling memengaruhi, mulai dari ketidakpastian politik, risiko geopolitik, hingga prospek suku bunga. Penguatan dolar berpotensi berlanjut apabila data ekonomi AS tetap solid dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat. Sebaliknya, penurunan harga energi yang berkelanjutan serta melemahnya indikator ketenagakerjaan dapat mengurangi tekanan inflasi dan membatasi penguatan dolar dalam jangka pendek.