
Trending
.jpeg)
Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali menguat pada Selasa (3/11) setelah pejabat Iran menyatakan kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan AS masih jauh tercapai. WTI naik 1,66% ke US$98,06 per barel, sementara Brent menguat 1,76% ke US$106,61 per barel.
Kenaikan ini terjadi sehari setelah kedua benchmark anjlok lebih dari 7% akibat harapan negosiasi AS-Iran. Namun, serangan AS terhadap Pulau Qeshm kembali meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran tidak akan menerima tuntutan Washington yang dianggap berlebihan. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf juga menyatakan Tehran telah memberikan respons yang kuat dan rasional kepada AS, sehingga kini keputusan berada di pihak Washington.
Perkembangan tersebut kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak. Meski demikian, kenaikan masih terbatas karena pasar menilai risiko gangguan pasokan sudah cukup tercermin dalam harga, sementara investor cenderung berhati-hati menjelang pemilu paruh waktu AS.
Risiko pasokan juga datang dari konflik Rusia-Ukraina. Serangan drone Ukraina dilaporkan merusak sebuah kilang minyak di Yaroslavl, Rusia, sementara Rusia kembali menyerang fasilitas energi Ukraina. Kondisi tersebut menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi global.
Di sisi lain, AS akan mempertemukan delegasi Rusia dan Ukraina di Abu Dhabi pada 10–11 November untuk membahas upaya mengakhiri perang, kesepakatan keamanan pascaperang, dan deeskalasi. Perkembangan diplomasi ini turut menjadi perhatian pasar energi.
Analisis Newsmaker: minyak kini berada di persimpangan antara risiko eskalasi dan peluang diplomasi. Selama konflik AS-Iran berlanjut dan risiko gangguan Selat Hormuz tetap tinggi, harga minyak memiliki penopang. Namun, terobosan diplomasi dapat kembali menghilangkan premi risiko dan menekan harga. (arl)
Sumber: Newsmaker.id