
Trending

Minyak
Sumber: Newasmaker.id
Harga minyak mentah Brent kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (2/11/2026), dengan bergerak menuju area US$106 per barel setelah sebelumnya mencatatkan penguatan tajam sepanjang Oktober. Pelemahan tersebut dipicu meningkatnya harapan penyelesaian diplomatik konflik Amerika Serikat dan Iran, yang mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Perubahan sentimen geopolitik mendorong pelaku pasar mengurangi premi risiko perang yang sebelumnya menopang kenaikan harga minyak hingga mencapai level tertinggi dalam enam bulan.
Optimisme pasar meningkat setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin memberikan waktu lebih panjang bagi upaya diplomasi sebelum mempertimbangkan serangan militer lanjutan terhadap Iran. Sementara itu, pembicaraan yang melibatkan Iran dan mediator Qatar terus berlangsung untuk mencari jalan keluar dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Perkembangan tersebut menumbuhkan harapan bahwa risiko gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz dapat berkurang. Meski demikian, belum tercapainya kesepakatan konkret membuat ketidakpastian pasokan energi tetap membayangi pasar.
Dari sisi fundamental, keputusan kelompok produsen minyak OPEC+ untuk mempertahankan target produksi Desember turut menjadi perhatian investor. Kebijakan tersebut menunjukkan produsen utama masih berhati-hati menghadapi ketidakpastian pasokan dan permintaan global. Di sisi lain, penurunan harga minyak dapat memberikan dampak positif terhadap prospek inflasi dunia karena biaya energi merupakan salah satu komponen penting dalam aktivitas produksi dan transportasi. Apabila penurunan berlangsung berkelanjutan, tekanan harga barang dan jasa berpotensi mereda sehingga memberikan ruang bagi bank sentral untuk mengevaluasi kembali kebijakan suku bunga ketat.
Memasuki pekan pertama November, arah harga minyak diperkirakan tetap sangat sensitif terhadap perkembangan konflik Timur Tengah, terutama menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November. Investor masih mewaspadai kemungkinan meningkatnya kembali ketegangan militer apabila jalur diplomasi mengalami kebuntuan. Apabila perundingan menunjukkan kemajuan, harga Brent berpotensi melanjutkan koreksi seiring berkurangnya kekhawatiran gangguan pasokan. Sebaliknya, ancaman serangan baru atau terganggunya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali mendorong kenaikan harga energi secara tajam.(CP)