
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026), setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ingin memberikan kesempatan lebih lama bagi jalur diplomasi sebelum memutuskan kemungkinan serangan militer baru terhadap Iran. Minyak Brent untuk pengiriman Januari turun 1,4% menjadi US$111,82 per barel pada pukul 08.25 waktu Singapura, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,6% ke level US$102,48 per barel. Penurunan ini terjadi setelah harga minyak melonjak lebih dari 2% pada akhir pekan lalu, ketika pasar masih mengkhawatirkan kemungkinan meningkatnya konflik Timur Tengah setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November.
Harapan terhadap penyelesaian konflik melalui perundingan kembali menguat setelah Trump dilaporkan menyampaikan keinginannya mengutamakan diplomasi dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sikap tersebut disebut menimbulkan kekhawatiran di pihak Israel yang menginginkan langkah lebih tegas terhadap Iran. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington belum mengambil keputusan mengenai serangan baru dan masih mengutamakan penyelesaian secara damai. Perkembangan ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar minyak karena berkurangnya risiko konflik dapat membantu menjaga kelancaran pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, kondisi keamanan di sekitar Selat Hormuz masih jauh dari stabil. Sejumlah kapal dilaporkan kembali menjadi sasaran serangan, termasuk kapal pengangkut gas alam cair pada Jumat dan kapal lainnya pada Minggu. Di sisi lain, Iran juga dilaporkan menyiapkan langkah pertahanan untuk menghadapi kemungkinan serangan baru, meskipun perundingan melalui mediator Qatar masih berlangsung. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan damai belum sepenuhnya menghilangkan ancaman gangguan distribusi minyak. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan di Selat Hormuz karena jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia.
Dari sisi pasokan, ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia mulai mendekati kondisi sebelum perang, tetapi pengiriman produk olahan seperti solar masih menghadapi hambatan. Gangguan terhadap kilang minyak Rusia akibat konflik dengan Ukraina turut memperketat pasokan bahan bakar global. Kondisi ini mendorong Goldman Sachs meningkatkan perkiraan harga Brent menjadi US$105 per barel pada Desember dan rata-rata US$88 pada 2027, sebagaimana dilaporkan dalam pembaruan proyeksi terbaru. Sementara itu, OPEC+ memutuskan mempertahankan target produksi minyak untuk Desember, mencerminkan sikap hati-hati produsen dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan pasokan energi.
Pandangan kedepan-nya, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi AS dan Iran setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Jika kedua negara menunjukkan kemajuan menuju kesepakatan damai, Brent berpotensi melanjutkan koreksi karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai berkurang. Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau munculnya serangan baru terhadap jalur pelayaran dan fasilitas energi dapat kembali mendorong harga minyak naik.