
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026), mengikuti penurunan tajam Wall Street pada akhir pekan lalu. Indeks MSCI Asia Pacific turun sekitar 0,5%, sementara pasar saham Jepang, Korea Selatan, dan Australia turut mengalami tekanan sejak pembukaan perdagangan. Pelemahan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap harga saham teknologi yang dinilai sudah terlalu tinggi dibandingkan dengan keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Setelah menjadi penggerak utama pasar selama beberapa waktu, sektor kecerdasan buatan (AI) kini menghadapi ujian terhadap keberlanjutan pertumbuhannya.
Tekanan tersebut bermula dari aksi jual besar-besaran di Wall Street pada Jumat (30/10), ketika indeks Nasdaq 100 anjlok 3,5%, mencatat penurunan harian terburuk sejak Juni. Indeks saham semikonduktor Philadelphia bahkan merosot 7,2%, setelah saham Intel mengalami kejatuhan terdalam dalam lebih dari empat dekade. Laporan keuangan Alphabet dan Amazon turut memperbesar kekhawatiran pasar karena investasi AI yang terus meningkat belum sepenuhnya memberikan hasil sesuai harapan. Investor mulai mempertanyakan apakah pengeluaran besar untuk pusat data, cip, dan pengembangan teknologi benar-benar mampu menghasilkan keuntungan dalam waktu dekat, terutama ketika sejumlah bisnis utama perusahaan teknologi mulai menunjukkan perlambatan.
Di pasar komoditas, harga minyak dunia turut melemah di tengah harapan meredanya konflik Timur Tengah. Minyak Brent turun sekitar 1,6% menuju US$111,60 per barel menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada Selasa (3/11). Penurunan ini terjadi meskipun risiko keamanan di sekitar Selat Hormuz masih tinggi akibat serangan terhadap sejumlah kapal. Sementara itu, emas justru menguat sekitar 0,7% menuju US$3.900 per troy ounce, setelah sebelumnya jatuh ke posisi penutupan terendah dalam lebih dari satu tahun. Pergerakan kedua komoditas tersebut menunjukkan bahwa investor masih berusaha menyesuaikan posisi di tengah perubahan sentimen geopolitik dan kekhawatiran terhadap kondisi pasar keuangan global.
Dari kawasan Asia, perhatian investor juga tertuju pada langkah pemerintah China dalam menjaga stabilitas pasar saham. Bank sentral China bersama otoritas keuangan dan perbankan dijadwalkan membahas penguatan fasilitas pembiayaan untuk mendukung pembelian kembali saham oleh perusahaan serta peningkatan kepemilikan investor. Langkah ini diharapkan mampu memperbaiki kepercayaan pasar yang masih tertekan. Di sisi lain, pasar aset digital menghadapi ketidakpastian setelah Binance mengalami serangan siber senilai sekitar US$6,3 miliar. Peristiwa tersebut sempat memicu penarikan dana besar-besaran sebelum aktivitas transaksi mulai kembali berjalan, menambah daftar risiko yang sedang diperhitungkan investor global.
Memasuki November, pasar diperkirakan masih menghadapi pergerakan yang cukup tajam karena sejumlah agenda penting belum selesai. Pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November berpotensi memengaruhi sentimen geopolitik dan kebijakan ekonomi, sementara laporan keuangan Nvidia pada akhir bulan akan menjadi perhatian untuk menilai prospek industri AI.