
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Jepang kembali melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026), dengan indeks Nikkei 225 turun sekitar 0,3% menuju level 63.000 pada awal sesi perdagangan. Penurunan ini memperpanjang tekanan dari akhir pekan lalu, ketika saham-saham teknologi mengalami aksi jual akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI). Investor mulai mempertanyakan kemampuan perusahaan teknologi menghasilkan keuntungan yang sebanding dengan besarnya dana yang dikeluarkan untuk pengembangan AI, sehingga minat terhadap saham berisiko kembali berkurang.
Tekanan terhadap pasar Jepang mengikuti pelemahan Wall Street pada Jumat lalu, terutama setelah saham Intel anjlok hampir 30% dan mencatat penurunan harian terdalam dalam lebih dari empat dekade. Perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat tersebut memberikan proyeksi pendapatan yang lebih lemah dari perkiraan, di tengah perlambatan permintaan komputer pribadi dan meningkatnya biaya pengembangan teknologi. Perkembangan ini memperbesar kekhawatiran bahwa belanja besar untuk infrastruktur AI belum tentu menghasilkan pertumbuhan keuntungan dalam waktu dekat. Sentimen tersebut kemudian menyebar ke pasar saham Asia, termasuk Jepang yang memiliki banyak perusahaan pemasok komponen dan peralatan semikonduktor.
Di pasar domestik, saham-saham teknologi Jepang menjadi salah satu kelompok yang mengalami tekanan paling besar. Kioxia Holdings merosot sekitar 13%, Ibiden melemah 6%, dan Screen Holdings turun 5,8%. Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek permintaan cip dan komponen elektronik. Tekanan juga meluas ke sektor perbankan, dengan Mitsubishi UFJ turun 2,3%, Sumitomo Mitsui melemah 2,6%, serta Mizuho Financial terkoreksi 2,5%. Pelemahan di berbagai sektor ini menunjukkan bahwa kekhawatiran pasar tidak lagi terbatas pada perusahaan teknologi, tetapi mulai memengaruhi sentimen investasi secara lebih luas.
Selain perkembangan saham teknologi, investor juga menantikan data pertumbuhan upah Jepang yang akan memberikan gambaran mengenai kekuatan konsumsi rumah tangga dan arah kebijakan Bank of Japan (BOJ). Pada pertemuan pekan lalu, BOJ mempertahankan suku bunga di level 1,25%, tetapi memberikan sinyal bahwa inflasi mendasar telah mencapai kisaran target 2%. Meski demikian, bank sentral masih perlu memastikan bahwa tekanan harga tersebut dapat bertahan secara berkelanjutan. Pertumbuhan upah menjadi salah satu faktor penting karena kenaikan pendapatan masyarakat dapat menopang konsumsi sekaligus memberikan ruang bagi BOJ untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter.