
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (29/10/2026), setelah laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI). Indeks S&P 500 melemah 0,3%, Nasdaq Composite merosot 1,4%, sementara Dow Jones Industrial Average kehilangan sekitar 135 poin. Tekanan terbesar datang dari saham Alphabet yang anjlok 12,6% setelah laba dan pendapatannya gagal memenuhi ekspektasi pasar, sehingga menyeret sektor layanan komunikasi dan teknologi ke zona merah. Saham Amazon turut melemah 4,2%, Intel turun 3,6%, sementara Microsoft terkoreksi 0,2% meskipun mencatatkan kinerja penjualan layanan komputasi awan yang solid.
Pelemahan Wall Street menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap besarnya pengeluaran perusahaan teknologi untuk pengembangan infrastruktur AI. Pasar mulai mempertanyakan apakah investasi bernilai besar tersebut mampu menghasilkan pertumbuhan keuntungan sesuai harapan. Tekanan juga melanda saham Caterpillar yang merosot 9,4% setelah perusahaan memperkirakan pertumbuhan penjualan moderat pada kuartal keempat. Namun, tidak seluruh sektor mengalami pelemahan. Saham Eli Lilly melonjak 6,5% setelah menaikkan proyeksi pendapatan berkat kuatnya permintaan obat penurun berat badan, sementara Merck menguat 3,7% setelah meningkatkan proyeksi kinerja. Pergerakan tersebut mencerminkan peralihan minat investor menuju perusahaan dengan prospek pendapatan yang lebih meyakinkan.
Di sisi ekonomi, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat pada kuartal ketiga mencapai 3,4%, melampaui ekspektasi pasar dan menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih relatif kuat. Namun, percepatan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada September kembali memunculkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid dan inflasi yang masih tinggi berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama. Kondisi tersebut menjadi tantangan tambahan bagi saham teknologi yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan valuasi. Investor kini mencermati laporan keuangan perusahaan besar berikutnya serta perkembangan inflasi AS untuk menilai apakah tekanan terhadap Wall Street akan berlanjut.
Sumber: Newsmaker.id