
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (29/10), bergerak di sekitar US$4.030 per troy ounce. Penguatan kembali dolar AS setelah koreksi pasca-FOMC menjadi salah satu faktor utama yang membebani emas.
The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober melalui voting 10-2, tetapi dua pejabat memilih kenaikan suku bunga. Pernyataan Kevin Warsh mengenai kewaspadaan terhadap inflasi yang masih tinggi turut memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan lebih lanjut.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember berada di sekitar 80%. Ekspektasi tersebut meningkatkan daya tarik dolar dan membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik bagi investor.
Risiko geopolitik Timur Tengah juga mendukung permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Di tengah upaya Qatar dan sejumlah pihak untuk menghidupkan kembali negosiasi AS-Iran, ketegangan masih berlangsung, terutama setelah serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi.
Kondisi tersebut turut menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Jika harga energi terus meningkat, peluang kebijakan moneter yang lebih ketat dapat semakin besar dan menjadi tekanan tambahan bagi emas.
Namun, investor berpotensi menahan aksi besar menjelang rilis data ekonomi AS. GDP kuartal III dan PCE akan menjadi perhatian utama karena keduanya dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed dan menentukan apakah tekanan terhadap emas berlanjut atau mulai mereda. (srh)
Sumber: Newsmaker.id