
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia berbalik melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026), setelah muncul harapan baru terhadap kemungkinan dilanjutkannya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun sekitar 0,4% menjadi US$114,88 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,8% dan ditutup pada US$102 per barel. Penurunan tersebut terjadi setelah muncul laporan mengenai langkah diplomatik Wakil Presiden AS JD Vance yang menghubungi pejabat keamanan senior Iran untuk membuka kembali komunikasi kedua negara. Perkembangan ini memberikan sentimen positif terhadap prospek stabilitas pasokan energi Timur Tengah, meskipun kekhawatiran mengenai kemungkinan meluasnya konflik masih membatasi penurunan harga minyak.
Menurut laporan The Wall Street Journal, JD Vance mengirimkan surat kepada Mohsen Rezaei, pejabat senior Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, sebagai upaya menghidupkan kembali pembicaraan perdamaian. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan telah menyetujui langkah komunikasi tersebut. Namun, pembicaraan masih berfokus pada kemungkinan kerangka perundingan dan belum mencapai tahap kesepakatan damai yang terperinci. Di sisi lain, Washington juga dilaporkan telah meminta sejumlah negara Arab di kawasan Teluk bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer singkat tetapi intens terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada November. Trump disebut belum mengambil keputusan akhir mengenai serangan lanjutan, sehingga pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian antara peluang diplomasi dan risiko eskalasi militer.
Ketegangan keamanan Timur Tengah juga belum sepenuhnya mereda setelah koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengumumkan keberhasilan mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan kelompok Houthi Yaman menuju wilayah timur kerajaan pada Kamis. Insiden tersebut terjadi setelah kelompok Houthi sebelumnya mengklaim telah menyerang kilang minyak Ras Tanura milik Arab Saudi, meskipun otoritas Saudi belum mengonfirmasi kerusakan fasilitas tersebut. Ancaman terhadap infrastruktur energi menunjukkan bahwa risiko gangguan pasokan masih berlangsung di tengah meningkatnya upaya diplomasi. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan komunikasi AS-Iran, keamanan fasilitas minyak Arab Saudi, serta kemungkinan operasi militer setelah pemilu AS. Selama belum terdapat kesepakatan konkret, harga minyak diperkirakan tetap sensitif terhadap perubahan situasi geopolitik kawasan.
Sumber: Newsmaker.id