
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (28/10/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi serangan militer lanjutan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu November.
Minyak mentah Brent naik 1,3% dan ditutup pada US$115,32 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,9% menjadi US$102,78 per barel. Penguatan tersebut terjadi setelah muncul laporan bahwa Washington telah meminta sejumlah negara Arab di kawasan Teluk bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer singkat tetapi intens terhadap Iran. Laporan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, terutama melalui jalur perdagangan strategis Selat Hormuz.
Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip sejumlah pihak yang mengetahui pembicaraan tersebut, Amerika Serikat telah menyampaikan kemungkinan berlangsungnya operasi militer baru setelah pemilu paruh waktu. Namun, belum ada kepastian bahwa serangan tersebut akan dilaksanakan. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan konflik dengan Iran harus diselesaikan dengan ketentuan yang ditetapkan Washington, termasuk memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir. Trump juga membuka kemungkinan penyelesaian melalui diplomasi ataupun tindakan militer. Ketidakpastian semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak Ras Tanura milik Arab Saudi menggunakan rudal balistik. Klaim serangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan fasilitas pengolahan dan distribusi minyak di kawasan Teluk Persia.
Di sisi lain, perkembangan politik Israel turut menjadi perhatian pasar setelah hasil awal pemilu menunjukkan belum adanya blok politik yang memperoleh dukungan mayoritas untuk membentuk pemerintahan. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan negosiasi koalisi yang berkepanjangan dan menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan keamanan Israel, termasuk pendekatannya terhadap Iran. Sementara itu, meningkatnya ketegangan militer dan ancaman terhadap fasilitas energi membuat pelaku pasar terus memperhitungkan premi risiko geopolitik dalam harga minyak. Investor kini mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran, keamanan jalur pengiriman minyak, serta potensi gangguan produksi di kawasan Timur Tengah. Selama risiko konflik masih tinggi, harga minyak berpotensi tetap mendapat dukungan, meskipun pergerakannya dapat berubah apabila muncul perkembangan diplomatik yang meredakan ketegangan.
Sumber: Newsmaker.id