
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melemah pada perdagangan Kamis setelah investor mencermati perkembangan diplomasi di Timur Tengah yang berpotensi mencegah kembali terjadinya serangan militer AS terhadap Iran. Perkembangan tersebut mulai mengurangi sebagian premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak menguat.
Upaya diplomasi kembali menjadi perhatian setelah Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan menghubungi Mohsen Rezaee, sekretaris badan keamanan tertinggi Iran. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Tehran masih memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi untuk mencapai penyelesaian konflik.
Upaya negosiasi antara AS dan Iran sebenarnya telah berlangsung selama beberapa bulan, namun beberapa kali mengalami kebuntuan. Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa Vance telah mengirim surat kepada pihak Iran, sementara ia juga menyebut proses negosiasi saat ini berlangsung melalui mediator. Namun, Trump mengaku belum mengetahui apakah pembicaraan tersebut akan menghasilkan kesepakatan.
Perkembangan diplomatik tersebut membuat sebagian pelaku pasar mulai mengambil keuntungan setelah reli minyak yang cukup panjang. Harga minyak Brent telah menguat lebih dari 10% sepanjang bulan ini dan sempat mencapai level tertinggi sejak April. Kenaikan tersebut meningkatkan tekanan terhadap konsumen sekaligus menyulitkan bank sentral dalam mengendalikan inflasi.
Di pasar produk minyak, tekanan pasokan juga masih menjadi perhatian. Konflik Timur Tengah serta meningkatnya serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah mengganggu aliran produk, khususnya diesel. Namun, tambahan kuota ekspor bahan bakar dari China turut memberikan tekanan terhadap harga produk minyak Eropa.
Sementara itu, Eropa berencana melepas sekitar 42 juta barel cadangan minyak dalam tiga bulan ke depan sebagai bagian dari upaya meredakan tekanan harga. Sekitar setengah dari cadangan tersebut berupa diesel, sehingga langkah ini diharapkan dapat membantu menambah pasokan di pasar.
Perkembangan diplomasi AS-Iran kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah minyak. Jika komunikasi kedua pihak berkembang menjadi kesepakatan konkret, premi risiko geopolitik berpotensi semakin berkurang dan menekan harga. Namun, selama konflik dan ancaman terhadap jalur pasokan energi masih berlangsung, ruang penurunan minyak tetap berpotensi terbatas.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id