
Trending

eurusd
Sumber: Newsmaker.id
Mata uang Euro menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (2/11/2026), dengan pasangan EUR/USD bergerak sedikit di atas level 1,1150 selama sesi Asia. Penguatan tersebut didukung oleh melemahnya dolar AS setelah muncul harapan baru terhadap penyelesaian konflik Timur Tengah melalui jalur diplomasi. Meski demikian, kenaikan Euro masih terbatas karena investor tetap berhati-hati menghadapi ketidakpastian geopolitik, prospek suku bunga global, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi keuangan pemerintah Prancis.
Dukungan terhadap Euro juga datang dari sikap European Central Bank (ECB) yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada Desember. Pada pertemuan pekan lalu, ECB mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi mengingatkan bahwa tingginya harga energi dapat memperbesar tekanan inflasi di kawasan Euro. Kenaikan harga minyak dan gas akibat konflik Timur Tengah membuat bank sentral harus lebih berhati-hati dalam menjaga stabilitas harga. Apabila tekanan inflasi terus berlanjut, ECB berpotensi kembali menaikkan suku bunga untuk mencegah kenaikan harga yang lebih luas. Ekspektasi tersebut membantu mempertahankan daya tarik Euro di tengah pelemahan dolar AS.
Dari sisi geopolitik, harapan perdamaian kembali meningkat setelah Iran melanjutkan pembicaraan dengan mediator Qatar selama tiga hari berturut-turut. Teheran juga mengajukan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam apabila Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan. Presiden Donald Trump menyebut pembicaraan dengan Iran menunjukkan perkembangan positif, meskipun kemungkinan tindakan militer setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November belum sepenuhnya dikesampingkan. Perkembangan diplomasi tersebut mengurangi sebagian permintaan dolar sebagai aset aman, tetapi ancaman konflik yang masih terbuka membuat penguatan Euro belum memperoleh dorongan yang lebih besar.
Sementara itu, kondisi ekonomi dan politik Prancis menjadi salah satu penghambat kenaikan Euro. Kekhawatiran terhadap besarnya utang pemerintah, meningkatnya biaya pinjaman, dan kebuntuan politik menjelang pemilu tahun depan menambah ketidakpastian di kawasan. Risiko tersebut dapat membatasi ruang ECB untuk memperketat kebijakan moneter secara agresif karena suku bunga yang lebih tinggi berpotensi memperbesar beban pembiayaan negara. Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan setelah pertumbuhan kuartal ketiga melampaui perkiraan dan inflasi tetap tinggi. Pasar juga masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Desember, sehingga dolar belum sepenuhnya kehilangan dukungan fundamentalnya.