
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak fluktuatif pada Selasa (3/11) setelah menghapus sebagian penguatan sebelumnya. Brent berada di sekitar US$105,02 per barel, sementara WTI naik 0,96% ke US$97,39 per barel, setelah keduanya anjlok lebih dari 7% pada perdagangan Senin.
Pergerakan minyak kembali dipengaruhi perkembangan konflik AS-Iran. Serangan AS terhadap Pulau Qeshm di dekat Selat Hormuz sempat mendorong harga naik karena meningkatkan risiko gangguan pasokan. Namun, tekanan kembali muncul setelah Iran memberikan sinyal baru mengenai keterbukaan terhadap negosiasi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei telah memberikan kewenangan tambahan kepada pemerintah untuk membahas sejumlah isu yang sebelumnya dianggap tidak dapat dinegosiasikan. Mediator Qatar juga disebut telah menyampaikan proposal terbaru untuk menjembatani perbedaan kedua pihak.
Selain faktor geopolitik, pasokan minyak dari kawasan Teluk masih relatif kuat. Ekspor Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait meningkat 10% menjadi lebih dari 15 juta barel per hari pada Oktober. Kondisi ini membantu meredakan tekanan pasokan meski ekspor Iran masih terganggu.
Pasar fisik juga mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran. Indikator minyak regional menunjukkan pasokan jangka pendek mulai melebihi permintaan, sementara struktur harga Dubai masuk ke kondisi contango, yang umumnya mencerminkan pasar dengan pasokan lebih longgar.
Di sisi lain, ketidakpastian tetap tinggi menjelang pemilu paruh waktu AS. Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam dapat melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilu, tetapi pada Senin menjawab “tidak” ketika ditanya apakah serangan akan kembali dilakukan setelah pemungutan suara.
Analisis Newsmaker: harga minyak kini terjebak di antara dua kekuatan. Diplomasi AS-Iran dan meningkatnya pasokan menekan harga, sementara risiko serangan baru dan gangguan Selat Hormuz memberikan penopang. Karena itu, perkembangan negosiasi dalam 36 jam ke depan serta sikap Washington setelah pemilu menjadi katalis penting bagi arah Brent dan WTI berikutnya. (arl)
Sumber: Newsmaker.id