
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS melemah pada Selasa (3/11) ketika investor mencermati ketidakpastian seputar konflik AS-Iran dan pemilu paruh waktu AS. Euro naik 0,14% ke US$1,1201, pound menguat 0,1% ke US$1,3421, sementara yen sedikit menguat ke 157,8 per dolar.
Pemilu paruh waktu AS menjadi perhatian karena hasilnya berpotensi memengaruhi arah kebijakan domestik dan fiskal Washington. Investor juga mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran yang sempat membantu menekan harga minyak dan turut membebani dolar dalam beberapa sesi terakhir.
Namun, peluang kesepakatan AS-Iran masih menghadapi ketidakpastian. Seorang pejabat senior Iran mengatakan pada Selasa bahwa kedua negara masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri perang, sehingga risiko geopolitik tetap menjadi faktor penting bagi pasar valuta asing.
Franc Swiss justru menguat setelah inflasi tahunan Swiss meningkat ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun. USD/CHF turun 0,3% ke 0,8164, sementara EUR/CHF melemah 0,2% ke 0,9137, level terendah terhadap franc sejak Juni.
Yuan China ikut melemah setelah bank sentral menaikkan jumlah cadangan valuta asing yang harus dimiliki lembaga keuangan. Kebijakan tersebut dipandang sebagai upaya memperlambat penguatan yuan. USD/CNY naik 0,37% ke 6,672.
Dolar Australia menjadi salah satu mata uang yang tertekan. AUD/USD turun 0,5% ke US$0,6963 setelah RBA menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 4,85%. Namun, hasil voting 6-3 memunculkan keraguan bahwa siklus kenaikan suku bunga masih akan berlanjut agresif.
Analisis Newsmaker: pergerakan dolar kini berada di antara tekanan dari ketidakpastian politik AS dan perkembangan diplomasi Timur Tengah, serta dukungan dari prospek kebijakan The Fed. Sementara itu, arah franc, yuan, dan AUD dipengaruhi faktor domestik masing-masing. Pasar selanjutnya akan mencermati keputusan suku bunga BoE, bank sentral Norwegia, dan Swedia, serta perkembangan pemilu AS dan konflik AS-Iran. (arl)
Sumber: Newsmaker.id