
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu (4/11/2026), berhasil menembus level psikologis US$4.000 per troy ounce setelah mendapat dukungan dari pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Emas spot tercatat menguat sekitar 2,2% ke level US$4.016,01 per troy ounce. Kenaikan ini dipicu perubahan sentimen investor setelah hasil pemilu sela AS menunjukkan kemenangan penting Partai Demokrat, yang meningkatkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperkuat daya tarik emas sebagai aset aman.
Hasil pemilu sela AS menjadi pendorong utama perubahan sentimen pasar setelah Partai Demokrat berhasil memperoleh mayoritas di kedua kamar Kongres. Kondisi tersebut berpotensi membatasi sejumlah agenda ekonomi Trump, termasuk pemotongan pajak dan peningkatan belanja pemerintah. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan perlambatan stimulus fiskal yang dapat mengurangi tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Perubahan ekspektasi ini mendorong pembelian obligasi pemerintah AS, sehingga imbal hasil Treasury turun dan memberikan tekanan terhadap dolar. Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor global.
Meski mengalami penguatan, kenaikan emas masih menghadapi tantangan dari ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang cenderung ketat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mendekati 80%. Ekspektasi tersebut diperkuat oleh laporan JOLTS yang menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan AS meningkat menjadi 7,523 juta pada September, dari 7,190 juta pada Agustus. Data tersebut mencerminkan permintaan tenaga kerja yang masih kuat, sehingga memberikan alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat guna mengendalikan inflasi.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik Timur Tengah masih menjadi perhatian investor. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington tidak memiliki rencana segera untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran, meskipun ketegangan militer dan perbedaan pandangan dalam perundingan damai belum sepenuhnya mereda. Iran juga menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada pencabutan sanksi dan berakhirnya blokade AS. Ketidakpastian tersebut menjaga permintaan terhadap aset aman, sementara risiko gangguan pasokan energi tetap berpotensi memengaruhi inflasi global. Investor kini menantikan laporan ADP Employment Change dan ISM Services PMI sebelum rilis Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat.
Newsmaker mencatat, keberhasilan emas menembus US$4.000 menjadi perkembangan penting setelah logam mulia mengalami tekanan jual sepanjang Oktober. Pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil obligasi AS membuka peluang pemulihan lebih lanjut, tetapi keberlanjutan kenaikan masih membutuhkan dukungan fundamental. Jika emas mampu bertahan di atas US$4.000 dan data tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan, momentum penguatan berpotensi berlanjut. Sebaliknya, apabila data ekonomi kembali melampaui ekspektasi dan memperkuat peluang kenaikan suku bunga The Fed, emas berisiko mengalami koreksi. Dengan demikian, arah pergerakan emas berikutnya akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap hasil pemilu AS, perkembangan geopolitik, dan data ketenagakerjaan menjelang keputusan suku bunga Desember.