
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (4/11/2026), disesi asia harga Brent diperdagangkan di area US$104 setelah mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,5% ke level US$96,58 per barel, sementara Brent sebelumnya ditutup melemah 1,1% menjadi US$103,60 per barel. Pergerakan harga yang tidak stabil mencerminkan kehati-hatian investor dalam menanggapi perkembangan perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih memberikan sinyal beragam.
Upaya diplomasi terus berlangsung setelah Washington dan Teheran dilaporkan tengah mempelajari proposal baru yang diajukan para mediator untuk menyelesaikan konflik. Namun, pejabat keamanan nasional Iran menyatakan bahwa tanggapan AS sejauh ini belum memuaskan. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa Washington tidak memiliki rencana segera untuk kembali menyerang Iran, meskipun kesiapan militer tetap dipertahankan. Pernyataan tersebut memberikan sedikit kelegaan bagi pasar, tetapi belum mampu menghilangkan ketidakpastian mengenai tercapainya kesepakatan damai.
Ketegangan geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi harga minyak setelah konflik Timur Tengah berlangsung selama sembilan bulan. Serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan ancaman operasi militer lanjutan telah mengganggu distribusi energi dari kawasan Teluk Persia. Sepanjang 2026, harga minyak Brent tercatat melonjak lebih dari 70% akibat kekhawatiran terhadap pasokan global. Kenaikan harga energi juga meningkatkan tekanan inflasi, termasuk di AS, sehingga turut menjadi perhatian dalam pemilu sela yang berlangsung pada Selasa.
Dari sisi pasokan, pemulihan ekspor minyak Timur Tengah mulai memberikan tekanan terhadap harga. Saudi Aramco berencana memaksimalkan produksi pada kuartal berjalan setelah pengiriman minyak kembali mendekati tingkat sebelum perang. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasokan jangka pendek mulai melampaui permintaan di sejumlah pasar. Namun, laporan American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 5,3 juta barel pada pekan lalu berpotensi memberikan dukungan terhadap harga apabila dikonfirmasi oleh data resmi pemerintah AS.
Newsmaker mencatat, pergerakan harga minyak saat ini mencerminkan tarik-menarik antara risiko geopolitik dan pemulihan pasokan global. Ketidakpastian hasil perundingan AS-Iran masih membuka peluang terjadinya lonjakan harga apabila ketegangan kembali meningkat. Sebaliknya, kemajuan diplomasi serta peningkatan ekspor minyak dari Timur Tengah berpotensi membatasi penguatan harga. Dalam jangka pendek, perhatian investor akan tertuju pada perkembangan negosiasi kedua negara dan laporan resmi persediaan minyak AS untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.