
Trending

gbpusd
Sumber: Newsmaker.id
Pound sterling menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Asia, Rabu (4/11/2026), dengan pasangan GBP/USD menembus level 1,3450 dan mencapai posisi tertinggi sejak 16 September. Penguatan ini didorong oleh pelemahan dolar AS secara luas setelah hasil awal pemilu sela menunjukkan peningkatan dukungan terhadap Partai Demokrat. Indeks Dolar AS (DXY) turut merosot ke level terendah dalam lebih dari satu bulan, mencerminkan perubahan sentimen investor terhadap prospek politik dan ekonomi Amerika Serikat.
Hasil awal pemilu sela AS meningkatkan kemungkinan terjadinya pembagian kekuasaan antara Kongres dan pemerintahan Presiden Donald Trump. Kondisi tersebut berpotensi menghambat penerapan sejumlah kebijakan ekonomi, termasuk perpajakan dan belanja pemerintah. Ketidakpastian ini mendorong sebagian investor beralih ke obligasi pemerintah AS, sehingga imbal hasil Treasury mengalami penurunan dan mengurangi daya tarik dolar. Pelemahan dolar semakin besar setelah Trump menyatakan bahwa Washington tidak memiliki rencana segera untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran, sehingga harapan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi kembali meningkat.
Dari Inggris, pound mendapatkan dukungan tambahan dari meredanya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal setelah pembaruan kebijakan anggaran pemerintah. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of England (BoE) pada pertemuan Kamis semakin memperkuat daya tarik mata uang Inggris. Investor memperkirakan bank sentral akan mempertahankan sikap ketat untuk mengendalikan inflasi yang masih berada di atas target. Kombinasi pelemahan dolar dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Inggris menjadi faktor utama yang mendorong penguatan GBP/USD.
Sementara itu, data tenaga kerja AS menunjukkan kondisi yang masih cukup kuat. Laporan JOLTS mencatat jumlah lowongan pekerjaan meningkat menjadi sekitar 7,5 juta pada September dari sebelumnya 7,2 juta, melampaui perkiraan pasar. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa permintaan tenaga kerja AS masih solid dan memberikan alasan bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter lanjutan. Namun, pengaruh positif data ekonomi terhadap dolar masih tertahan oleh ketidakpastian politik dan penurunan imbal hasil obligasi. Investor kini menantikan laporan tenaga kerja ADP dan ISM Services PMI sebelum keputusan suku bunga BoE pada Kamis serta rilis Non-Farm Payrolls (NFP) AS pada Jumat.
Newsmaker mencatat, lonjakan pound mencerminkan kombinasi pelemahan dolar akibat hasil awal pemilu AS, meredanya risiko geopolitik, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Inggris. Selama dolar masih tertekan dan pasar mempertahankan keyakinan terhadap kebijakan moneter ketat BoE, GBP/USD berpotensi melanjutkan penguatan. Namun, kenaikan tersebut tetap menghadapi risiko koreksi apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan kekuatan dan mendorong pemulihan dolar. Dengan demikian, arah pergerakan pound dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada kepastian hasil pemilu AS, keputusan BoE, serta perkembangan indikator ketenagakerjaan Amerika Serikat.