
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu (4/11/2026), setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) mendorong pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Emas spot (XAU/USD) menguat 3,4% menjadi US$4.061,30 per troy ounce, sementara kontrak emas berjangka naik dengan persentase serupa dan ditutup pada US$4.073 per troy ounce. Penguatan juga terjadi pada perak yang melonjak 5,1% menjadi US$52,29 per troy ounce. Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) melemah sekitar 0,3%, mencerminkan respons investor terhadap perubahan keseimbangan kekuasaan politik di Washington.
Hasil pemilu paruh waktu AS menunjukkan Partai Demokrat berhasil memperoleh mayoritas di kedua kamar Kongres, sehingga meningkatkan ekspektasi adanya pembatasan terhadap sejumlah agenda fiskal pemerintahan Presiden Donald Trump. Pelaku pasar memperkirakan perubahan tersebut dapat memperlambat ekspansi belanja pemerintah dan mengurangi tekanan terhadap penerbitan utang negara.
Ekspektasi itu turut mendorong penurunan yield Treasury AS, sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Sementara itu, bursa saham AS menguat seiring meredanya ketidakpastian hasil pemilu, sedangkan harga minyak dunia melemah di tengah perubahan sentimen geopolitik. Kombinasi pelemahan dolar dan penurunan yield menjadi pendorong utama pemulihan harga logam mulia.
Meski demikian, arah emas selanjutnya masih menghadapi ketidakpastian kebijakan moneter Federal Reserve. Kepala Analisis Pasar StoneX untuk EMEA dan Asia, Rhona O'Connell, menilai perubahan penguasaan Kongres dapat meningkatkan ketidakpastian fiskal dan hubungan antara pemerintah dengan lembaga legislatif.
Di sisi lain, potensi pembatasan stimulus fiskal berpeluang menekan yield obligasi dan dolar AS, sehingga memberikan dukungan terhadap emas. Namun, risiko konflik Iran dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember tetap menjadi faktor yang dapat membatasi penguatan logam mulia. Investor kini mencermati perkembangan kebijakan fiskal AS, pergerakan dolar, serta data ekonomi berikutnya untuk menilai keberlanjutan reli emas.
Sumber: Newsmaker.id