
Trending

usdjpy
Sumber: Newsmaker.id
Yen Jepang kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Asia, Kamis (5/11/2026), melanjutkan penguatan selama dua hari berturut-turut. Pasangan USD/JPY bergerak melemah dan menghadapi tekanan di sekitar level 158,00 setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah mingguan di 157,40. Penguatan yen didorong oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ), sementara pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memberikan dukungan terhadap mata uang Jepang.
Risalah pertemuan BoJ September yang dirilis pada Kamis menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan sepakat untuk melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap dan menyesuaikan tingkat pelonggaran moneter. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral Jepang berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada Desember. Kebijakan yang lebih ketat dapat meningkatkan daya tarik yen karena berpotensi mempersempit selisih suku bunga antara Jepang dan AS, yang selama ini menjadi salah satu faktor utama penyebab pelemahan mata uang Jepang.
Di sisi lain, dolar AS masih menghadapi tekanan setelah Partai Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres dalam pemilu sela. Hasil tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan terhambatnya sejumlah agenda fiskal pemerintahan Presiden Donald Trump. Selain itu, harapan berakhirnya konflik AS-Iran turut menekan harga minyak dunia secara tajam, sehingga membantu meredakan kekhawatiran inflasi global. Penurunan harga energi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS melemah dan mengurangi daya tarik dolar terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk yen Jepang.
Meski demikian, tekanan terhadap dolar masih dibatasi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Desember. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai lebih dari 80%, didukung oleh data tenaga kerja AS yang masih menunjukkan ketahanan. Laporan ADP mencatat penambahan 86.000 pekerjaan sektor swasta pada Oktober, melampaui perkiraan pasar. Kondisi tersebut memberikan alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Perhatian investor kini tertuju pada laporan Non-Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis Jumat untuk menilai kekuatan pasar tenaga kerja dan prospek kebijakan suku bunga berikutnya.