
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia melanjutkan penguatan tajam pada perdagangan Kamis (5/11/2026), setelah berhasil menembus level psikologis US$4.100 per troy ounce dan mencapai posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kenaikan tersebut memperpanjang reli setelah emas melonjak lebih dari 3,5% pada sesi sebelumnya, mencatat penguatan harian terbesar sejak pertengahan Agustus. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) yang bertahan di sekitar level terendah dalam satu bulan menjadi faktor utama yang mendukung kenaikan harga logam mulia.
Penguatan emas didorong oleh perubahan sentimen pasar setelah kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu sela AS. Hasil tersebut mengurangi ketidakpastian politik sekaligus meningkatkan harapan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tidak akan melanjutkan serangan militer terhadap Iran dalam waktu dekat. Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menyatakan akan mendorong penyelesaian konflik AS-Iran melalui jalur diplomasi, termasuk memanfaatkan kewenangan Kongres dalam pengawasan anggaran pemerintah. Perkembangan ini memperkuat optimisme investor terhadap kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Harapan berakhirnya konflik turut menyebabkan harga minyak dunia mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir. Penurunan harga energi berpotensi mengurangi tekanan inflasi global, sehingga meredakan kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga tinggi. Selain itu, perubahan keseimbangan politik di Washington meningkatkan ekspektasi bahwa sejumlah agenda belanja pemerintah AS akan menghadapi hambatan di Kongres. Kondisi tersebut turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang pada akhirnya melemahkan dolar dan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan pendapatan bunga.
Meski momentum penguatan emas semakin kuat, pasar masih menghadapi ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember tetap menjadi faktor yang berpotensi membatasi penguatan logam mulia. Investor kini menantikan laporan Non-Farm Payrolls (NFP) AS pada Jumat (6/11/2026), yang akan memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja. Apabila data menunjukkan perlambatan pertumbuhan pekerjaan, ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi melemah dan memberikan dukungan tambahan terhadap emas. Sebaliknya, laporan yang lebih kuat dari perkiraan dapat mendorong pemulihan dolar dan imbal hasil obligasi AS.