
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,2% hingga menembus level 62.300 pada perdagangan Kamis (5/11/2026), memulihkan sebagian kerugian yang terjadi pada sesi sebelumnya. Penguatan ini mengikuti kenaikan pasar saham Wall Street setelah hasil pemilu sela Amerika Serikat (AS) menunjukkan kemenangan Partai Demokrat. Sentimen investor membaik seiring penurunan tajam harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya harapan penyelesaian konflik Timur Tengah. Kondisi tersebut memberikan dukungan bagi pasar saham Jepang, terutama sektor yang sensitif terhadap biaya energi.
Penurunan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang mendorong optimisme investor. Kemenangan Partai Demokrat di Kongres AS meningkatkan harapan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump akan menghadapi tekanan lebih besar untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Prospek meredanya ketegangan geopolitik membuat harga minyak dunia mengalami koreksi tajam, sehingga berpotensi mengurangi biaya produksi dan transportasi. Bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi, penurunan harga minyak dapat membantu menekan biaya operasional perusahaan sekaligus meredakan tekanan inflasi domestik.
Penguatan pasar saham Jepang dipimpin oleh sektor ritel dan otomotif yang mendapatkan manfaat dari membaiknya sentimen global. Saham Fast Retailing melonjak 9,5%, Nintendo menguat 5,3%, sementara Toyota Motor naik 6,9%. Sektor perbankan juga mencatat kinerja positif, dengan Mitsubishi UFJ meningkat 3,2% dan Sumitomo Mitsui menguat 1,7%. Kenaikan sejumlah saham unggulan tersebut membantu menopang indeks Nikkei di tengah pergerakan sektor lainnya yang masih beragam.
Namun, penguatan pasar saham Jepang tertahan oleh tekanan pada perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Investor mulai mempertimbangkan kemungkinan perubahan regulasi serta kebijakan pengembangan pusat data di AS setelah Partai Demokrat menguasai Kongres. Kekhawatiran tersebut memicu tekanan jual pada sejumlah saham teknologi Jepang, termasuk Kioxia Holdings yang anjlok 7,3%, Advantest melemah 8,5%, dan SoftBank Group turun 6,2%. Kondisi ini menunjukkan bahwa meningkatnya ketidakpastian terhadap prospek investasi AI masih menjadi tantangan bagi sektor teknologi global.