
Trending

Perak
Sumber: Newsmaker.id
Harga perak kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (30/10), dengan penurunan lebih dari 5% hingga menembus level US$50 per troy ounce, terendah sejak November 2025. Perak juga berada di jalur mencatat penurunan bulanan sekitar 18% sepanjang Oktober, menjadi pelemahan bulanan terdalam sejak Juni.
Tekanan terhadap perak terjadi di tengah aksi jual yang juga melanda logam mulia lainnya. Harga emas turut kembali berada di bawah US$4.000. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap aset logam mulia setelah konflik Timur Tengah mendorong harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Desember menjadi salah satu faktor utama yang menekan perak. The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4% pada pertemuan Rabu, tetapi pasar masih memperkirakan kemungkinan pengetatan lebih lanjut. Suku bunga yang lebih tinggi membuat aset seperti perak menjadi kurang menarik karena tidak memberikan pendapatan bunga.
Tekanan semakin besar setelah aksi jual saham teknologi akibat kekhawatiran terhadap besarnya investasi AI mengguncang pasar keuangan. Investor yang mengalami kerugian di aset lain berpotensi melepas kepemilikan logam mulia untuk memperoleh likuiditas, sementara penguatan dolar AS turut menambah beban bagi harga perak.
Analisis Newsmaker: Perak kini menghadapi tekanan dari kombinasi ekspektasi suku bunga tinggi, penguatan dolar, dan aksi jual di pasar berisiko. Dengan harga yang sudah berada jauh di bawah rekor tertingginya, pasar akan mencermati apakah area US$50 mampu menjadi pijakan pemulihan atau justru menjadi level baru yang memicu tekanan jual berikutnya. (arl)
Sumber : Newsmaker.id