
Trending

Perak
Sumber: Newsmaker.id
Harga perak kembali melemah pada perdagangan Rabu (21/10), seiring meningkatnya tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Harga perak spot (XAG/USD) turun 0,89% menjadi US$57,50 per troy ounce, memperpanjang tekanan terhadap logam mulia di tengah meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve. Pemulihan dolar AS dari level terendah hampir tiga pekan turut membebani pergerakan perak, mengingat penguatan greenback membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya. Selain itu, tingginya imbal hasil Treasury meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan perak yang tidak memberikan imbal hasil.
Tekanan terhadap perak semakin meningkat setelah harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 1,6% akibat ketidakpastian penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Upaya diplomasi yang melibatkan Pakistan dilaporkan masih menghadapi hambatan, terutama terkait tuntutan Washington terhadap program nuklir Teheran. Iran juga mengindikasikan bahwa pembatasan aktivitas di Selat Hormuz akan tetap berlangsung hingga sejumlah persyaratannya dipenuhi. Ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan risiko inflasi berkepanjangan. Berdasarkan CME FedWatch Tool yang dikutip dalam laporan pasar, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendekati 90%, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap harga perak.
Investor kini menantikan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve pada 28 Oktober serta rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada 29 Oktober untuk memperoleh petunjuk mengenai prospek inflasi dan suku bunga. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi pengetatan moneter dan memperpanjang pelemahan perak. Sebaliknya, meredanya tekanan inflasi dan penurunan yield Treasury dapat membuka peluang pemulihan harga. Meski demikian, ketidakpastian geopolitik Timur Tengah masih berpotensi menopang permintaan perak sebagai aset aman, sehingga pergerakan logam mulia ini diperkirakan tetap berfluktuasi menjelang keputusan The Fed.
Point of View Newsmaker
Pelemahan perak menuju US$57,50 menunjukkan bahwa ekspektasi suku bunga tinggi The Fed saat ini lebih mendominasi pasar dibandingkan permintaan aset aman akibat konflik Timur Tengah. Lonjakan harga minyak menjadi tantangan bagi perak karena dapat mempertahankan inflasi AS pada level tinggi, yang berpotensi mendorong The Fed melanjutkan pengetatan moneter.
Dari sisi teknikal, area US$57 menjadi support psikologis penting bagi XAG/USD. Jika harga menembus level tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju US$56 hingga US$55. Sebaliknya, apabila perak mampu kembali menguat di atas US$58, peluang pemulihan menuju US$59–60 dapat terbuka. Level tersebut merupakan skenario pemantauan teknikal, bukan kepastian target harga.
Kesimpulan Newsmaker: Perak masih berada dalam tekanan bearish jangka pendek akibat penguatan dolar AS, tingginya yield Treasury, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, konflik Timur Tengah dapat membatasi pelemahan melalui permintaan aset aman. Keputusan FOMC dan data inflasi PCE pekan depan berpotensi menjadi katalis utama yang menentukan apakah perak mampu bangkit atau justru melanjutkan penurunan. (arl)
Sumber: Newsmaker.id