
Trending

Perak
Sumber: Newsmaker.id
Harga perak (XAG/USD) rebound ke sekitar US$57,90 per troy ounce, naik 1,35% pada perdagangan Selasa (20/10). Penguatan perak didukung pelemahan dolar AS dan penurunan yield Treasury, setelah muncul laporan mengenai potensi kemajuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat mendorong harga minyak turun tajam.
Sentimen membaik setelah Israel Channel 12 melaporkan adanya proposal kompromi dari Pakistan yang disebut mendapat persetujuan awal Washington dan Teheran. Kabar tersebut kemudian dibantah oleh seorang diplomat yang terlibat dalam negosiasi, sehingga ketidakpastian terkait peluang kesepakatan masih tinggi.
Harga minyak sempat turun menuju US$97,40 setelah sebelumnya menembus US$100 per barel. Penurunan minyak berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap inflasi berbasis energi, yang kemudian memberikan ruang bagi yield Treasury dan dolar AS untuk melemah. Kondisi tersebut menjadi katalis positif bagi aset non-yielding seperti perak.
Meski demikian, kenaikan perak masih menghadapi tantangan dari prospek kebijakan Federal Reserve. Data CPI dan PPI AS terbaru yang lebih tinggi dari perkiraan menunjukkan tekanan inflasi masih bertahan, sehingga peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun tetap terbuka.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober masih relatif kecil, sementara ekspektasi kenaikan pada Desember tetap tinggi. Investor selanjutnya akan mencermati data Initial Jobless Claims dan PMI AS untuk mencari petunjuk baru mengenai kondisi ekonomi serta arah kebijakan moneter.
Analisis Newsmaker: Rebound perak saat ini mendapat dorongan dari dolar dan yield yang melemah serta penurunan harga minyak, tetapi belum sepenuhnya terbebas dari risiko suku bunga. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat menguat dan membatasi pemulihan XAG/USD.
Sumber : Newsmaker.id