Wall Street Menguat, Deal AS–Iran Tekan Minyak dan Yield
Wall Street menguat pada Senin (15/6) setelah kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz mendorong reli aset berisiko dan menekan harga minyak. Sentimen pasar membaik karena investor menilai perang yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang pasar energi semakin dekat menuju akhir.
S&P 500 naik 1,7%, sementara Nasdaq 100 menguat 3,1% karena saham teknologi kembali mendapat dukungan dari turunnya yield. Dow Jones Industrial Average bahkan menyentuh rekor tertinggi. Di luar saham, Bitcoin menembus US$66.000, menandakan risk appetite kembali masuk ke aset spekulatif setelah tekanan geopolitik mulai mereda.
Katalis utama datang dari memorandum of understanding antara Amerika Serikat dan Iran. Seorang pejabat senior AS mengatakan Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance telah menandatangani salinan elektronik kesepakatan tersebut. Trump juga menyebut Selat Hormuz “sudah sebagian dibuka” dan akan “dibuka sepenuhnya” pada Jumat.
Dampak paling langsung terlihat pada pasar energi. US crude ditutup di bawah US$81/barel, menurunkan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya meningkat akibat gangguan pasokan. Jika Hormuz benar-benar kembali beroperasi normal, risiko lonjakan harga energi dapat mereda dan tekanan terhadap bank sentral untuk menaikkan suku bunga ikut berkurang.
Yield Treasury tenor 2 tahun turun karena pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Transmisi ini menjadi penting bagi saham: minyak turun, risiko inflasi melemah, yield turun, lalu valuasi saham pertumbuhan mendapat ruang pemulihan. Karena itu, Nasdaq bergerak lebih kuat dibanding indeks lain.
Namun, pasar belum sepenuhnya menghapus risiko. Kesepakatan AS–Iran masih dapat menghadapi hambatan, terutama terkait isu penghapusan material nuklir Iran dan detail teknis pembukaan Hormuz. Jika proses implementasi tersendat, volatilitas pada minyak, yield, saham, dan aset risiko dapat kembali meningkat.
Untuk saat ini, deal AS–Iran memberi pasar alasan kuat untuk mengurangi premi risiko perang. Fokus berikutnya adalah pembukaan penuh Hormuz pada Jumat, detail final kesepakatan, arah harga minyak, serta sinyal The Fed terhadap inflasi dan suku bunga.(yds)
Sumber: Newsmaker.id