Minyak Turun ke Level Tiga Bulan, Deal AS–Iran Pangkas Premi Risiko
Harga minyak ditutup turun tajam pada Senin (15/6) setelah Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani memorandum of understanding untuk mengakhiri perang Iran dan membuka kembali Selat Hormuz. Kabar ini membuat pasar melepas sebagian premi risiko perang yang sebelumnya menopang harga energi selama beberapa bulan terakhir.
Minyak mentah Brent ditutup turun US$4,16 atau 4,76% ke US$83,17/barel, sementara WTI melemah US$4,13 atau 4,87% ke US$80,75/barel. Kedua kontrak mencatat penutupan terendah sejak 4 Maret, mencerminkan ekspektasi bahwa gangguan pasokan dari kawasan Teluk dapat mulai mereda jika Hormuz kembali dibuka.
Seorang pejabat AS mengatakan memorandum tersebut telah ditandatangani oleh Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung pada Jumat di Jenewa. Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan rancangan kesepakatan menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam 30 hari di bawah pengaturan Iran.
Penurunan minyak juga diperkuat oleh prospek tambahan pasokan. Iran menurunkan harga jual resmi light crude untuk pembeli Asia menjadi US$7,15/barel di atas rata-rata Oman/Dubai untuk Juli, jauh lebih rendah dari premi bulan sebelumnya sebesar US$13/barel. Langkah ini memberi sinyal bahwa Teheran bersiap mendorong kembali volume ekspor jika jalur logistik dan sanksi mulai longgar.
Secara fundamental, transmisi pasar bergerak melalui jalur pasokan dan inflasi. Jika Hormuz kembali dibuka dan ekspor Iran meningkat, tekanan pasokan global dapat berkurang, harga energi melemah, dan risiko inflasi ikut turun. Kondisi ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter lebih ketat.
Namun, pasar masih akan menguji implementasi kesepakatan. Fokus berikutnya adalah detail pembukaan Hormuz, respons perusahaan pelayaran dan asuransi, arus ekspor Iran, serta apakah penandatanganan resmi di Jenewa berjalan tanpa hambatan. Selama kepastian teknis belum lengkap, volatilitas minyak masih berpotensi bertahan meski premi perang mulai menyusut.(yds)
Sumber: Newsmaker.id