Akhir Pekan Mencekam, AS Bersiap Hantam Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah memerintahkan militer AS menyiapkan serangan baru terhadap Iran yang dapat dimulai paling cepat akhir pekan ini. Menurut The Wall Street Journal pada Jumat (31/7), operasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan tekanan militer agar Teheran menerima tuntutan Washington.
Laporan terpisah dari CBS menyebut Amerika Serikat dan Israel mempertimbangkan pengeboman terhadap infrastruktur energi Iran, termasuk kilang minyak dan pembangkit listrik. Namun, sumber CBS menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai sasaran tersebut belum ditetapkan.
Rencana serangan muncul setelah Trump menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap para perunding Iran. Kemarahan Washington meningkat menyusul serangan Iran terhadap pasukan AS di Yordania, yang mengakhiri jeda pertempuran dan memicu serangan balasan Amerika terhadap puluhan sasaran Iran.
Gedung Putih belum mengumumkan secara resmi waktu, skala, maupun daftar target operasi baru tersebut. Jalur komunikasi melalui perantara masih berjalan, tetapi hubungan kedua negara berada dalam kondisi sangat rapuh karena masing-masing pihak saling menuduh melanggar komitmen diplomatik.
Eskalasi terjadi ketika jalur pengiriman energi di Timur Tengah juga menghadapi ancaman. Gangguan di Selat Hormuz telah meningkatkan kekhawatiran pasokan, sementara minyak Brent membukukan lonjakan sekitar 23% sepanjang Juli akibat konflik dan risiko terhadap pelayaran global.
Analisis Newsmaker: Apabila AS benar-benar menyerang kilang dan pembangkit listrik Iran, harga minyak berpotensi melonjak karena pasar akan memperhitungkan kerusakan pasokan serta kemungkinan pembalasan terhadap jalur pelayaran. Emas dapat memperoleh dukungan sebagai aset aman, sedangkan dolar berpeluang menguat pada awalnya. Namun, lonjakan energi juga dapat memperbesar inflasi dan mengguncang pasar saham global. Ini merupakan analisis skenario karena target dan waktu serangan belum dikonfirmasi secara resmi. (arl)
Sumber : Newsmaker.id