Emas Menguat, Pasar Cermati Sinyal The Fed
Harga emas menguat pada perdagangan Jumat (3/7) dan menuju kenaikan mingguan pertama sejak Mei. Logam mulia naik mendekati level US$4.200 per troy ounce dan sudah menguat sekitar 2,2% sepanjang pekan ini.
Penguatan emas terjadi setelah pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan membuat investor menilai The Fed tidak terlalu terdesak untuk kembali mengetatkan kebijakan moneter.
Data yang dirilis Kamis menunjukkan perekrutan tenaga kerja AS melambat tajam pada Juni. Kondisi ini memberi sinyal bahwa pasar kerja masih menghadapi tekanan, meski dalam beberapa bulan terakhir sempat menunjukkan tanda kekuatan. Pasar swap kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya berada di bawah 20%, turun dari sekitar sepertiga pada awal pekan.
Sentimen positif emas juga datang dari penurunan harga minyak. Harga energi sebelumnya menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran inflasi sejak konflik AS-Iran dimulai. Namun, arus kapal tanker melalui Selat Hormuz mulai pulih, sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kembali mengirim minyak dari Teluk Persia mendekati level sebelum perang.
Di sisi lain, pasar juga mencermati upaya Presiden AS Donald Trump dan sekutunya untuk membentuk ulang jajaran Federal Reserve. Kekhawatiran terhadap independensi bank sentral sebelumnya ikut mendorong reli emas melalui tema debasement trade, yaitu kekhawatiran terhadap inflasi, pelemahan nilai mata uang, dan meningkatnya beban utang negara maju.
Pada pukul 14.31 waktu New York, harga emas spot naik 1,3% ke level US$4.176,94 per troy ounce. Perak menguat 2% ke US$62,42 per troy ounce setelah naik 5% dalam tiga sesi sebelumnya. Platinum dan palladium juga ikut reli, sementara indeks dolar Bloomberg bergerak datar setelah sebelumnya melemah 0,5%.(arl)
Sumber: Newsmaker.id