Minyak Naik Lagi, Serangan AS ke Iran Ancam Gencatan
Harga minyak kembali naik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter militer AS di dekat Oman. Serangan ini menambah risiko terhadap gencatan senjata yang rapuh di Timur Tengah dan kembali mengangkat kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Brent sempat naik hingga 2% dan bergerak di atas US$93/barel, sementara WTI menguat ke sekitar US$90/barel. Pada pukul 08.48 waktu Singapura, Brent kontrak Agustus naik 1,7% ke US$92,96/barel, sedangkan WTI kontrak Juli naik 1,6% ke US$89,61/barel. Kenaikan ini terjadi setelah kedua acuan minyak sempat turun tajam pada sesi sebelumnya.
Komando Pusat AS menyebut serangan tersebut sebagai aksi “self-defense” yang dilakukan atas arahan Presiden Donald Trump. AS mengatakan tindakan itu merupakan respons proporsional terhadap agresi Iran setelah helikopter Apache AS ditembak jatuh saat berpatroli di sekitar Selat Hormuz. Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya enam ledakan di Pulau Qeshm, serta serangan di wilayah Jask dekat jalur sempit tersebut.
Ketegangan baru ini memperbesar risiko bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup hampir sepenuhnya. Jalur ini sangat penting karena menjadi salah satu titik transit utama minyak dan energi dari Timur Tengah ke pasar global. Jika gangguan berlangsung lebih lama, pasokan minyak, bahan bakar, dan gas alam bisa semakin ketat, sehingga tekanan inflasi global berpotensi bertahan.
Meski begitu, pasar belum sepenuhnya membaca serangan AS sebagai awal perang besar. Analis menilai respons yang masih bersifat proporsional memberi sinyal bahwa Washington tetap lebih memilih kesepakatan dibanding eskalasi penuh. Namun, peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran tetap dinilai jauh lebih sulit selama serangan balasan masih terjadi.
Dari sisi fundamental, pasar minyak juga mendapat dukungan dari data persediaan AS. American Petroleum Institute melaporkan stok minyak mentah AS turun 9,1 juta barel pekan lalu, yang jika dikonfirmasi data resmi akan menjadi penurunan terbesar sejak September. Stok AS sudah berada di level terendah empat bulan, mencerminkan ketatnya pasokan global saat pembeli berusaha mengganti pasokan yang hilang dari Teluk Persia.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id