Yield Melonjak, Emas Tumbang
Harga emas berakhir melemah tajam pada perdagangan Jumat (31/7). Emas spot turun ke US$4.044,87 per troy ounce, setelah gagal mempertahankan pergerakan di atas US$4.100. Meski terkoreksi, emas masih mencatat kenaikan sekitar 1% sepanjang Juli, menjadi kenaikan bulanan pertamanya dalam lima bulan.
Tekanan utama datang dari pemulihan dolar AS setelah mata uang tersebut sebelumnya jatuh akibat dugaan intervensi Jepang untuk menopang yen. Indeks dolar kembali menguat sekitar 0,2%, membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Kenaikan yield obligasi AS memberikan tekanan yang lebih besar. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun menembus sekitar 4,739%, sedangkan tenor 30 tahun naik ke sekitar 5,27%. Lonjakan yield meningkatkan daya tarik obligasi dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga.
Pasar kembali mempertimbangkan risiko kenaikan suku bunga setelah Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan mendukung pengetatan sebesar 25 basis poin. Ketiganya menilai kebijakan saat ini belum cukup menahan inflasi dan penundaan tindakan dapat memaksa The Fed menaikkan bunga lebih agresif nantinya.
Data sentimen konsumen AS juga menunjukkan perbaikan menjadi 55,2 pada Juli, dari perkiraan awal 54,4. Ketahanan konsumsi memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat menghadapi biaya pinjaman tinggi, meskipun inflasi inti mulai menunjukkan perlambatan.
Analisis Newsmaker: Emas masih berada dalam tekanan selama yield Treasury bertahan tinggi dan harga gagal kembali menembus US$4.080–US$4.100. Area US$4.020–US$4.000 menjadi support penting. Penembusan di bawah US$4.000 dapat memperbesar tekanan jual, sedangkan konflik AS–Iran tetap berpotensi menjaga permintaan aset aman. (arl)
Sumber : Newsmaker.id