Dolar Kehilangan Tenaga, Akankah Emas Menjemput $4.300?
Harga emas kembali menguat pada perdagangan Jumat (03/7) dan bergerak mendekati area US$4.200 per troy ounce. Kenaikan ini menjadi penguatan hari ketiga berturut-turut setelah emas sebelumnya sempat jatuh ke level terendah sejak November 2025.
Penguatan emas terjadi karena pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Data Non-Farm Payrolls Amerika Serikat menunjukkan ekonomi hanya menambah 57.000 pekerjaan pada Juni, jauh di bawah perkiraan pasar sebesar 110.000. Data bulan sebelumnya juga direvisi turun dari 172.000 menjadi 129.000.
Meski tingkat pengangguran turun tipis ke 4,2%, data tenaga kerja tersebut tetap menunjukkan adanya perlambatan di pasar kerja AS. Kondisi ini membuat pasar menilai The Fed tidak terlalu terdesak untuk kembali menaikkan suku bunga secara agresif. Ekspektasi pasar pun bergeser dari peluang satu hingga dua kali kenaikan suku bunga pada 2026 menjadi nol hingga satu kali kenaikan.
Tekanan terhadap dolar AS ikut memperkuat kenaikan emas. Dolar bergerak dekat level terendah dua pekan setelah data pekerjaan yang lemah dan meredanya kekhawatiran inflasi akibat turunnya harga minyak. Ketika dolar melemah, emas menjadi lebih menarik bagi investor karena harganya lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain.
Namun, kenaikan emas masih bisa tertahan oleh risiko geopolitik. Ketidakpastian pembicaraan AS-Iran tetap menjadi perhatian setelah muncul laporan bahwa pejabat AS khawatir Israel dapat mengganggu proses negosiasi damai. Iran juga memperingatkan akan memberi respons cepat jika ada campur tangan AS di Selat Hormuz.
Untuk hari ini, volume perdagangan diperkirakan lebih tipis karena pasar saham dan obligasi AS tutup dalam rangka libur Hari Kemerdekaan. Meski begitu, sentimen utama masih condong positif untuk emas. Jika momentum beli berlanjut, emas berpeluang menguji area US$4.200 hingga US$4.220, sementara koreksi kemungkinan tertahan di sekitar US$4.150 hingga US$4.130.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id