Minyak Turun, Kesepakatan Pipa Irak–Kurdistan Redakan Sebagian Risiko Pasokan
Harga minyak melemah pada perdagangan Rabu setelah Irak menandatangani kesepakatan dengan Kurdistan untuk melanjutkan ekspor melalui pipa menuju pelabuhan Ceyhan, Turki, yang menghindari Selat Hormuz. Perkembangan ini memberi sinyal tambahan pasokan di tengah gangguan pengiriman akibat konflik, meskipun pasar menilai dampaknya belum menyelesaikan masalah utama.
Brent turun di bawah US$101 per barel setelah melonjak lebih dari 3% pada hari Selasa, sementara WTI berada di sekitar US$93. Pada perdagangan siang di Singapura, Brent kontrak Mei turun 2,4% menjadi US$100,93 per barel, sedangkan WTI kontrak April melemah 3,4% menjadi US$92,97; kontrak Mei yang lebih aktif turun 3,4% ke US$92,31.
Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat menyatakan menggunakan amunisi penembus untuk menghantam lokasi misil jelajah anti-kapal Iran di dekat Selat Hormuz, jalur yang dinilai vital dan sedang diupayakan pembukaannya oleh Presiden AS Donald Trump. Konflik juga meningkat setelah Iran mengonfirmasi kematian Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang dipandang sebagai tokoh kunci dalam kepemimpinan masa perang.
Sejumlah analis menilai kematian Larijani dapat meningkatkan risiko Iran dengan mengambil langkah yang lebih agresif terhadap arus minyak. Aaron Stein dari Foreign Policy Research Institute menyebut situasi ini berpotensi memicu operasi AS yang lebih tegang, termasuk kemungkinan pengawalan kapal tanker, yang dapat menambah wilayah di jalur pengiriman.
Meski ekspor Irak dialihkan melalui Turki, pasar menilai perbaikan pasokan hanya sebagian karena produksi Irak dilaporkan turun ke sekitar 1,4 juta barel per hari, sekitar irisan dari level sebelum penutupan efektif Hormuz. Sementara itu, fokus pasar tetap pada titik sempit Hormuz yang disebut masih pada kondisi “secara efektif tertutup”, dengan lalu lintas kapal dipengaruhi kalkulasi politik dan mencakup akses.
Tahun ini Brent telah naik hampir 70%, terutama setelah serangan awal AS dan Israel terhadap Iran pada akhir bulan lalu, yang diikuti gangguan aset energi dan lalu lintas kapal tanker. Lonjakan harga energi juga meningkatkan perhatian bank sentral, dengan biaya diesel AS dilaporkan menembus US$5 per galon pekan ini, sementara pasar menanti keputusan suku bunga The Fed yang diperkirakan tidak berubah.(asd)
Sumber: Newsmaker.id