Emas Naik Tipis, Gencatan Senjata Israel–Lebanon Tarik Dip-Buyers
Harga emas menguat pada Kamis setelah Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata bersyarat, yang dipandang sebagai langkah awal menyelesaikan konflik Timur Tengah yang mengganggu pasar energi dan memicu risiko inflasi. Emas sempat naik hingga 0,7% mendekati US$4.465/oz, pulih sebagian turun 1,2% pada sesi sebelumnya ketika pembeli kembali masuk di area harga rendah.
Kesepakatan itu, menurut pernyataan bersama Israel, Lebanon, dan AS, bergantung pada “penghentian tembakan sepenuhnya” dari Hizbullah. Pasar menyambutnya sebagai sinyal de-eskalasi, meskipun konflik yang lebih luas terutama jalur AS–Iran masih jauh dari tuntas dan tetap rawan berubah akibat perkembangan di lapangan.
Sebelumnya, bentrokan pada hari Rabu menjadi gejolak paling serius sejak gencatan April, dengan Kuwait dan Bahrain ikut terdampak di tengah eskalasi yang mengancam pembicaraan AS–Iran. Washington dan Teheran disebut sudah punya kerangka kasar untuk memperluas gencatan dan membuka kembali Selat Hormuz, tetapi detail final masih buntu. Trump mengatakan Hormuz akan dibuka “segera” setelah Iran menandatangani MoU, namun Teheran masih menolak sejumlah syarat.
Gangguan berkepanjangan pada arus energi melalui Hormuz telah mendorong naiknya harga minyak dan menjaga tekanan inflasi global. Lingkungan inflasi ini membuat bank sentral cenderung menahan suku bunga tinggi lebih lama—bias yang biasanya menekan emas karena tidak memberi imbal hasil. Meski begitu, setelah tiga hari berlalu, minyak justru terkoreksi di tengah kabar gencatan Israel–Lebanon, membantu meredakan tekanan jangka pendek dari imbal hasil dan dolar.
Namun ruang pemulihan emas tetap terbatas tanpa penyelesaian konflik yang lebih menyeluruh. Pejabat The Fed seperti Lorie Logan menyebut kenaikan suku bunga bisa diperlukan lagi bila inflasi tidak turun menjadi 2%, sementara analis menilai ekspektasi pengetatan yang masih “menempel” membuat emas sulit membangun kepercayaan yang kuat. Pada perdagangan Asia, spot emas tercatat naik tipis ke sekitar US$4.446/oz, sementara dolar sedikit melemah. (asd)*
Sumber : Newsmaker.id