Minyak Melonjak di Atas 6%, Brent lampaui $100 per Barel
Harga minyak melonjak lebih dari 6% pada perdagangan Kamis (23/7), dengan Brent menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Kenaikan terjadi setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Serangan tersebut memicu kritik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan memperbesar kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global. Pasar mulai mencemaskan meluasnya risiko konflik di jalur utama pengiriman energi.
Pada pukul 14.20 waktu New York, kontrak minyak Brent untuk pengiriman September naik 7,4% menjadi US$101,08 per barel. Sementara itu, minyak WTI AS melonjak 6,8% ke level US$92,75 per barel.
Kenaikan harga minyak juga dipicu memburuknya hubungan Washington dan Teheran setelah kesepakatan awal kedua negara gagal berlanjut. Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan lebih tinggi.
Tekanan inflasi terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun naik 4,4 basis poin menjadi 4,704% karena investor melepas obligasi pemerintah.
Strategis energi global Macquarie, Vikas Dwivedi, menilai harga minyak masih berpotensi mendapat dukungan dalam beberapa pekan ke depan. Hal ini disebabkan berkurangnya ketersediaan pasokan minyak dari kawasan Teluk Arab.
Macquarie menilai reli minyak juga didorong oleh kembalinya premi risiko geopolitik dan aksi short squeeze. Meski peluang eskalasi lanjutan masih terbuka, kemungkinan konflik berkembang menjadi perang berskala besar dinilai tetap rendah selama tidak terjadi salah perhitungan serius dari pihak terkait.(yds)
Sumber: Newsmaker.id