Emas Tahan Banting, Bank Sentral Jadi Penopang
Harga emas dinilai mulai menunjukkan ketahanan setelah sempat tertekan dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu penopang utamanya datang dari pembelian bank sentral yang masih kuat, sehingga prospek pelemahan emas dianggap mulai terbatas.
Emas bergerak di atas US$4.100 per troy ounce pada Juli dan berpeluang mencatat kenaikan bulanan pertama sejak perang Timur Tengah dimulai. Kenaikan ini terjadi meski konflik AS-Iran kembali memanas dan harga minyak kembali melonjak setelah sebelumnya sempat turun selama dua bulan.
Minat terhadap emas kembali muncul karena investor mencari aset diversifikasi di tengah banyak ketidakpastian. Pasar masih mencermati arah perang Timur Tengah, rencana tarif Presiden Donald Trump, hingga keraguan terhadap keberlanjutan reli saham teknologi berbasis AI.
Dukungan terbesar datang dari bank sentral. World Gold Council memperkirakan pembelian bersih emas oleh sektor resmi mencapai 244 ton pada kuartal I 2026, naik dari 208 ton pada kuartal sebelumnya. China juga menambah cadangan emasnya pada Juni untuk bulan ke-20 berturut-turut, sementara Polandia masih menjadi salah satu pembeli besar.
Emas semakin menarik sebagai aset cadangan karena pasokannya relatif stabil dan memiliki risiko pihak lawan yang rendah. Setelah pembekuan sebagian cadangan devisa Rusia pada 2022, banyak bank sentral semakin melihat emas sebagai aset penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Dampaknya ke market, emas masih berpotensi bertahan kuat selama pembelian bank sentral berlanjut dan kekhawatiran utang pemerintah global meningkat. Namun, XAU/USD tetap bisa tertekan jika perang Timur Tengah mendorong minyak jauh di atas US$100, dolar AS menguat sebagai safe haven, atau optimisme saham teknologi kembali membuat investor keluar dari aset lindung nilai.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id