Dolar AS Melemah Tipis, Risiko Energi Batasi Tekanan
Dolar Amerika Serikat melemah tipis ke sekitar level 101 pada perdagangan Kamis (23/7), melanjutkan penurunan terbatas dari sesi sebelumnya. Pergerakan ini terjadi saat pelaku pasar menimbang kembali kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi dengan kondisi ekonomi AS yang mulai terlihat lebih lunak.
Pasar secara luas masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Namun, ketidakpastian mengenai arah kebijakan berikutnya meningkat karena Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, belum memberi panduan yang benar-benar jelas.
Meski melemah, penurunan dolar AS tetap terbatas karena permintaan terhadap aset safe haven masih muncul. Ketegangan Timur Tengah kembali menjadi fokus utama, terutama setelah Presiden Donald Trump mengatakan AS akan menyerang infrastruktur Iran jika terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.
Iran juga memperingatkan akan membalas dengan menyerang target energi dan infrastruktur regional. Di sisi lain, serangan terhadap kapal tanker di Laut Merah, yang menjadi insiden pertama sejak akhir Februari, semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap meluasnya konflik kawasan.
Dari sisi dampak market, dolar AS berpotensi bergerak terbatas dalam jangka pendek. Tekanan dari ekonomi AS yang lebih lunak dapat menahan penguatan greenback, tetapi risiko geopolitik, lonjakan harga energi, dan kekhawatiran gangguan perdagangan global masih bisa menopang dolar sebagai aset aman. Jika harga minyak terus naik, pasar kembali berisiko mencermati inflasi dan arah suku bunga The Fed. (asd)
Sumber: Newsmaker.id