Awas, Emas Terjebak Hormuz dan The Fed!
Harga emas masih tertahan di zona pelemahan setelah tekanan dari dua arah besar kembali muncul, yaitu ketegangan di Selat Hormuz dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Emas sempat turun ke bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce setelah pada perdagangan Senin anjlok hampir 3%, penurunan terbesar dalam lebih dari dua pekan.
Tekanan utama datang dari keputusan Amerika Serikat yang kembali memberlakukan blokade laut menuju dan dari pelabuhan Iran. Presiden Donald Trump juga menuntut penggantian biaya sebesar 20% atas kargo yang melintas di Selat Hormuz, di tengah serangan AS terhadap Iran yang sudah berlangsung selama tiga malam berturut-turut.
Kondisi ini membuat harga minyak kembali naik karena pasar khawatir pasokan dari kawasan Teluk Persia bisa terganggu. Bagi emas, kenaikan harga minyak bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal inflasi. Jika harga energi terus tinggi, tekanan inflasi bisa kembali meningkat dan membuat The Fed sulit melonggarkan kebijakan.
Kekhawatiran pasar semakin besar setelah Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan bahwa bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pernyataan ini membuat pelaku pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli naik menjadi sekitar 43%. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi beban bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Investor kini menunggu dua agenda penting dari Amerika Serikat, yaitu data inflasi konsumen bulan Juni dan testimoni pertama Kevin Warsh di hadapan Kongres sebagai Ketua The Fed. Jika data CPI lebih panas dari perkiraan atau Warsh memberi sinyal hawkish, emas berisiko kembali mendapat tekanan.
Pada perdagangan Asia, emas spot turun 0,6% ke level US$3.983,63 per troy ounce. Perak melemah 0,3% ke US$57,50 per ounce, platinum juga turun tipis, sementara palladium menguat. Untuk sementara, emas masih berada dalam posisi rentan selama harga minyak naik, dolar bertahan kuat, dan pasar semakin percaya bahwa The Fed bisa kembali menaikkan suku bunga.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id