Dolar Melonjak, Hormuz Bikin Minyak Terbang
Dolar Amerika Serikat menguat tajam setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz kembali memanas. Indeks Dolar AS atau DXY naik sekitar 0,3% menuju level 101,30, didorong permintaan safe haven dan lonjakan harga minyak.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Selat Hormuz akan tetap terbuka “dengan atau tanpa Iran”. Ia juga menyebut Amerika Serikat sebagai “Guardian of the Hormuz Strait” dan mengumumkan blokade terhadap kapal serta pelanggan Iran. Pernyataan ini langsung memperkuat kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi global.
Iran menolak keterlibatan Washington dalam pengelolaan Selat Hormuz. Teheran memperingatkan bahwa setiap upaya transit AS tanpa izin akan mendapat perlawanan keras. Iran juga menyebut kerja sama negara-negara kawasan dengan AS dapat dianggap sebagai tindakan perang.
Di pasar valuta, penguatan dolar menekan mayoritas mata uang utama. EUR/USD turun menuju 1,1380, sementara GBP/USD melemah ke sekitar 1,3350. USD/JPY naik mendekati 162,40 karena yen tetap tertekan meski pasar berada dalam mode risk-off. Sementara itu, AUD/USD turun ke bawah 0,6920 karena minat terhadap aset berisiko melemah.
Harga minyak ikut melonjak tajam. WTI naik sekitar 9% ke dekat US$78 per barel dan mencapai level tertinggi satu bulan. Lonjakan ini terjadi karena pasar khawatir gangguan di Selat Hormuz dapat memperketat pasokan energi global.
Di sisi lain, emas justru turun di bawah level psikologis US$4.000 dengan pelemahan sekitar 3%. Emas gagal mendapat dukungan dari ketegangan geopolitik karena dolar yang kuat dan kekhawatiran suku bunga tinggi lebih lama menekan permintaan terhadap aset tanpa imbal hasil.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada data inflasi AS atau CPI. Inflasi utama diperkirakan turun ke 3,8% secara tahunan dari 4,2%, sementara core CPI diproyeksikan tetap di 2,9%. Selain itu, investor juga menunggu testimoni Ketua The Fed Kevin Warsh dan komentar sejumlah pejabat The Fed untuk membaca arah suku bunga selanjutnya.
Dampaknya ke market, dolar masih berpotensi kuat selama ketegangan Hormuz belum mereda. Jika minyak terus naik dan inflasi kembali menjadi ancaman, The Fed bisa mempertahankan sikap hawkish. Kondisi ini dapat menekan emas, saham, crypto, dan mata uang berisiko, sementara sektor energi berpeluang tetap mendapat dukungan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id