• Tue, Jul 14, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

14 July 2026 03:19  |

Wall Street Makin Tertekan, Saham Chip Rontok

Bursa saham Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Senin (13/7), seiring tekanan besar pada saham-saham chip dan memburuknya sentimen makroekonomi. Investor semakin berhati-hati setelah konflik di Selat Hormuz kembali memanas dan memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi energi.

Indeks S&P 500 turun 0,6%, Nasdaq 100 melemah lebih dalam sebesar 2%, sementara Dow Jones Industrial Average jatuh lebih dari 150 poin. Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, khususnya saham semikonduktor yang selama ini menjadi motor reli pasar berkat optimisme kecerdasan buatan atau AI.

Saham-saham chip melemah karena muncul kekhawatiran bahwa perusahaan besar penyedia layanan AI atau hyperscaler bisa mulai mengurangi belanja infrastruktur AI. SK Hynix ADR turun 8% setelah sebelumnya melonjak 13% saat debut pada Jumat. Tekanan bertambah setelah salah satu broker Korea menilai perusahaan tersebut berisiko gagal memenuhi target laba berikutnya.

Saham Nvidia, AMD, dan Intel masing-masing turun lebih dari 3%. Sementara itu, produsen memori seperti Sandisk dan Micron mencatat tekanan lebih besar, dengan Sandisk turun 5% dan Micron anjlok 12%. Pelemahan ini membuat Nasdaq menjadi indeks dengan tekanan paling dalam pada sesi tersebut.

Sentimen pasar juga memburuk setelah Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan kembali menerapkan blokade terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz. Langkah ini meningkatkan risiko eskalasi konflik dan berpotensi memperbesar gangguan pasokan energi, yang pada akhirnya dapat menambah tekanan inflasi.

Tekanan juga terlihat pada sektor perbankan menjelang musim laporan keuangan pekan ini. JPMorgan dan Bank of America masing-masing turun 0,5%, sementara Citi melemah 1,5%. Investor kini menunggu apakah laporan keuangan bank-bank besar dapat memberi sinyal ketahanan ekonomi AS di tengah risiko suku bunga tinggi dan geopolitik yang semakin panas.

Dampaknya ke market, Wall Street masih berpotensi bergerak defensif selama saham chip belum stabil dan konflik Hormuz belum mereda. Jika harga energi terus naik, ekspektasi inflasi bisa kembali menguat dan membuat The Fed tetap hawkish. Kondisi ini berisiko menekan saham teknologi, aset berisiko, dan mendukung rotasi sementara ke sektor energi.(yds)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

MARKET UPDATE

Asia Merah 3 Hari, Minyak Naik

Bursa Asia melanjutkan pelemahan untuk hari ketiga, sementara harga minyak naik tipis karena perang di Iran dinilai berpotens...

4 March 2026 07:26
MARKET UPDATE

Asia Naik, Wall Street Pecah Rekor!

Saham Asia menguat pada Jumat setelah indeks-indeks utama Wall Street mencetak rekor, didukung reli saham bertema kecerdasan ...

15 May 2026 08:00
MARKET UPDATE

Asia Cetak Rekor, Yield AS Naik: CPI Pasar Nunggu

Saham Asia menguat untuk hari kelima berturut-turut pada hari Rabu, dengan MSCI Asia Pacific Index naik sekitar 0,4% dan kemb...

12 February 2026 07:26
MARKET UPDATE

Asia Merah Tipis, Yen Tetap Kuat: Tarif Korea Bikin Pasar Ki...

Bursa Asia bergerak melemah tipis setelah kekhawatiran tarif muncul lagi. Korea Selatan jadi pusat perhatian: Kospi turun sek...

27 January 2026 07:23
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai