Wall Street Makin Tertekan, Saham Chip Rontok
Bursa saham Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Senin (13/7), seiring tekanan besar pada saham-saham chip dan memburuknya sentimen makroekonomi. Investor semakin berhati-hati setelah konflik di Selat Hormuz kembali memanas dan memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi energi.
Indeks S&P 500 turun 0,6%, Nasdaq 100 melemah lebih dalam sebesar 2%, sementara Dow Jones Industrial Average jatuh lebih dari 150 poin. Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, khususnya saham semikonduktor yang selama ini menjadi motor reli pasar berkat optimisme kecerdasan buatan atau AI.
Saham-saham chip melemah karena muncul kekhawatiran bahwa perusahaan besar penyedia layanan AI atau hyperscaler bisa mulai mengurangi belanja infrastruktur AI. SK Hynix ADR turun 8% setelah sebelumnya melonjak 13% saat debut pada Jumat. Tekanan bertambah setelah salah satu broker Korea menilai perusahaan tersebut berisiko gagal memenuhi target laba berikutnya.
Saham Nvidia, AMD, dan Intel masing-masing turun lebih dari 3%. Sementara itu, produsen memori seperti Sandisk dan Micron mencatat tekanan lebih besar, dengan Sandisk turun 5% dan Micron anjlok 12%. Pelemahan ini membuat Nasdaq menjadi indeks dengan tekanan paling dalam pada sesi tersebut.
Sentimen pasar juga memburuk setelah Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan kembali menerapkan blokade terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz. Langkah ini meningkatkan risiko eskalasi konflik dan berpotensi memperbesar gangguan pasokan energi, yang pada akhirnya dapat menambah tekanan inflasi.
Tekanan juga terlihat pada sektor perbankan menjelang musim laporan keuangan pekan ini. JPMorgan dan Bank of America masing-masing turun 0,5%, sementara Citi melemah 1,5%. Investor kini menunggu apakah laporan keuangan bank-bank besar dapat memberi sinyal ketahanan ekonomi AS di tengah risiko suku bunga tinggi dan geopolitik yang semakin panas.
Dampaknya ke market, Wall Street masih berpotensi bergerak defensif selama saham chip belum stabil dan konflik Hormuz belum mereda. Jika harga energi terus naik, ekspektasi inflasi bisa kembali menguat dan membuat The Fed tetap hawkish. Kondisi ini berisiko menekan saham teknologi, aset berisiko, dan mendukung rotasi sementara ke sektor energi.(yds)
Sumber: Newsmaker.id