Emas Tertekan, CPI dan Kevin Warsh Jadi Sorotan
Newsmaker.id - Harga emas melemah pada perdagangan Senin (13/7) setelah meningkatnya serangan Iran di kawasan Teluk mendorong harga minyak dan memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi global. Emas spot turun sekitar 1,1% menuju US$4.076 per troy ounce, meskipun ketegangan geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset aman.
Tekanan terhadap emas muncul karena konflik Amerika Serikat dan Iran mengangkat harga Brent sekitar 3,3% ke kisaran US$78,50 per barel. Kenaikan harga energi dikhawatirkan memperbesar biaya produksi dan transportasi, sehingga dapat menjaga inflasi tetap tinggi serta mendorong Federal Reserve mempertahankan atau kembali menaikkan suku bunga.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat turut mengangkat dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika. Pasar kini memperkirakan peluang sebesar 52,1% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya dua kali hingga pertemuan Desember, naik dari 47,6% pada akhir pekan lalu. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Investor selanjutnya menantikan rilis inflasi CPI Amerika Serikat pada Selasa, 14 Juli 2026, serta kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres. Warsh dijadwalkan berbicara di hadapan DPR pada 14 Juli dan Senat pada 15 Juli, dengan pasar mencari petunjuk mengenai arah suku bunga di tengah tekanan inflasi akibat perang dan kenaikan harga energi.
Dampak terhadap Market :
Emas: Harga emas berpotensi tetap tertekan apabila CPI lebih tinggi dari perkiraan dan Warsh memberikan sinyal hawkish. Namun, eskalasi konflik yang lebih besar dapat kembali memicu pembelian aset aman.
Dolar AS: Dolar berpeluang menguat karena kekhawatiran inflasi meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Obligasi AS: Imbal hasil Treasury berpotensi meningkat apabila pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Minyak: Brent dan WTI berpeluang melanjutkan kenaikan jika serangan Iran menghambat pelayaran dan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Pasar saham: Bursa global dapat tertekan akibat kombinasi kenaikan biaya energi, risiko inflasi, dan kemungkinan kebijakan moneter yang semakin ketat.(CP)