Minyak Melonjak setelah Iran Klaim Tutup Hormuz
Newsmaker.id - Harga minyak melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Senin (13/7) setelah Iran memperluas serangan ke sejumlah negara Teluk dan menyatakan kembali menutup Selat Hormuz. Kontrak berjangka Brent naik 3,08% menjadi US$78,35 per barel, sedangkan West Texas Intermediate menguat 3,09% ke level US$73,62 per barel.
Eskalasi terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan tambahan terhadap Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang sasaran di Qatar dan Uni Emirat Arab. Ketegangan tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap keamanan pengiriman minyak dan gas melalui salah satu jalur energi terpenting dunia.
Iran menyatakan pelayaran melalui Selat Hormuz tidak dapat dilakukan hingga stabilitas kembali pulih. Namun, Amerika Serikat membantah klaim penutupan tersebut dan menyebut jalur selatan di dekat Oman masih tersedia. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi selat pada Minggu, jumlah terendah dalam lima pekan.
Kenaikan minyak juga menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi global dan arah suku bunga. Brent kemudian memperpanjang kenaikan hingga sekitar 4,1% ke US$79,11 per barel, sementara WTI mencapai US$74,37. Lonjakan tersebut menekan pasar saham Asia serta mendorong penguatan dolar dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Dampak terhadap Market :
Minyak: Brent dan WTI berpeluang tetap menguat apabila lalu lintas kapal di Hormuz terus terbatas atau serangan kembali meluas.
Emas: Konflik dapat mendukung permintaan aset aman, tetapi kenaikan minyak juga meningkatkan kekhawatiran inflasi dan suku bunga tinggi sehingga berpotensi membatasi kenaikan emas.
Dolar AS: Dolar berpeluang menguat karena permintaan aset aman dan meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat.
Pasar saham: Saham maskapai, transportasi, manufaktur, dan sektor konsumsi energi tinggi berisiko tertekan akibat kenaikan biaya operasional.
Inflasi: Kenaikan harga minyak dapat mendorong biaya bahan bakar, logistik, dan produksi global sehingga bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.(CP)