Inflasi Masih Tinggi, Pelonggaran The Fed Terancam
Newsmaker.id - Federal Reserve kembali menegaskan komitmennya untuk mewujudkan stabilitas harga dalam laporan kebijakan moneter semesteran yang disampaikan kepada Kongres Amerika Serikat. Bank sentral menyatakan siap bertindak tegas untuk memastikan ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terkendali di sekitar target 2%.
Laporan tersebut menyebut inflasi kembali meningkat sepanjang tahun ini dan masih berada di atas target The Fed. Tekanan harga antara lain dipicu oleh gangguan pasokan, kenaikan harga energi, tarif perdagangan, serta konflik di Timur Tengah yang turut mendorong ekspektasi inflasi jangka pendek.
Di sisi lain, pasar tenaga kerja Amerika Serikat dinilai masih relatif stabil, dengan tingkat pengangguran tetap rendah dan produktivitas tenaga kerja yang kuat. Pertumbuhan ekonomi berjalan moderat pada kuartal pertama, didukung peningkatan investasi bisnis, meskipun konsumsi rumah tangga masih bergerak terbatas.
Proyeksi Juni memperkirakan inflasi PCE berada di level 3,6% pada 2026, sementara inflasi inti diperkirakan mencapai 3,3%. Proyeksi median suku bunga juga berada di 3,8% pada akhir tahun, lebih tinggi dibandingkan kisaran suku bunga saat ini sebesar 3,50%–3,75%, sehingga pasar akan mencermati kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Dampak terhadap Market :
Dolar AS: Pernyataan tegas The Fed berpotensi mendukung penguatan dolar karena ekspektasi penurunan suku bunga dapat semakin berkurang.
Emas: Harga emas berpotensi tertekan apabila dolar dan imbal hasil obligasi naik. Namun, permintaan aset aman akibat konflik Timur Tengah dapat membatasi pelemahan.
Obligasi AS: Imbal hasil Treasury berpotensi meningkat apabila pasar memperhitungkan kemungkinan suku bunga bertahan tinggi atau kembali dinaikkan.
Wall Street: Saham teknologi dan sektor sensitif suku bunga dapat mengalami tekanan karena biaya pendanaan yang lebih tinggi dan valuasi saham menjadi kurang menarik.(CP)